Hari ini di glministry.com
Update : 6 September 2010
Pro Kontra Bola Jabulani
Pelatih Inggris Fabio Capello, turut mempertanyakan kualitas bola resmi Piala Dunia, Jabulani, setelah sebelumnya Julio Cesar, Luis Fabiano, dan Iker Casillas sudah lebih dulu mengeluhkan Jabulani.
“Itu adalah bola paling jelek yang pernah saya lihat sepanjang hidup saya. Bagi pemain, bola ini sangat buruk. Jika memainkan umpan pendek tidak ada masalah. Tapi untuk umpan panjang, lintasan bola benar-benar sulit dimengerti,” kata Capello sebagaimana diberitakan Viva.
“Bola itu tak mungkin bisa dikontrol. Saya bisa membayangkan kalau bola ini memang menjadi mimpi buruk buat penjaga gawang,” keluh Capello.
Produsen Jabulani, Adidas, mengungkapkan kalau tim peserta tak mau memakai kesempatan untuk berlatih dengan bola itu sebelum Piala Dunia dimulai. Inggris membela diri dengan mengatakan kalau akses untuk mencoba itu ditutup hingga 15 hari terakhir jelang pembukaan Piala Dunia.
Syahdan, Dave, si robot kaki kreasi mahasiswa Loughborough University, Inggris, rajin ‘menendang’ bola Jabulani. Ya, sebuah robot kaki bernama Dave, yang namanya diambil dari Dave Ward, mahasiswa tingkat tiga yang mendesainnya sekitar empat tahun lalu, memegang peranan penting dalam proses penyempurnaan Jabulani. Robot setinggi 1,22 meter tersebut dikembangkan di Sports Technology Institute, Loughborough University, Inggris.
Sejak tahun 2002 lalu, akademisi di universitas itu telah bekerjasama dengan Adidas berupaya untuk menghadirkan bola yang sempurna untuk perhelatan besar di Afrika Juni 2010.
Dengan kaki logam dan dipasangkan pada poros, Dave memiliki kemampuan menendang bola dengan cara yang sama seperti manusia menendang bola. Tentunya dengan sejumlah kelebihan yang di antaranya adalah menendang dengan konsistensi dan akurasi tinggi, tetapi tanpa risiko cidera. Kemampuan ini tidak akan dimiliki oleh pemain profesional sekalipun.
Setelah Dave menendang bola secara berulang-ulang bahkan hingga kecepatan bola mencapai 145 kilometer per jam, peneliti bisa mempelajari bagaimana perubahan pada konstruksi bola bisa mempengaruhi pergerakan bola tersebut.
“Peneliti telah memanfaatkan Dave untuk menendang bola dengan berbagai cara serta dilakukan pula pada terowongan angin untuk melihat bagaimana reaksi bola pada beragam kondisi,” kata Dr Andy Harland, dosen di Lughborough University.
“Tendangan dilakukan terus menerus dan mengganti bola untuk dilihat bagaimana hasilnya,” terangnya.
Berkat riset yang dilakukan bertahun-tahun dan tendangan tak kenal lelah yang dilakukan oleh Dave, bola resmi yang akan digunakan pada pertandingan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan selesai dikembangkan.
Dari sisi bola, peneliti membuktikan bahwa bola yang memiliki panel sedikit pergerakan lebih konsisten dibanding bola pada umumnya. Untuk itu, Jabulani hanya memiliki delapan panel pembungkus bola yang dibentuk dan dirapatkan dengan suhu tinggi.
Khusus untuk permukaan bola, peneliti juga menemukan bahwa semakin banyak alur akan membuat stabilitas bola, khususnya saat di udara menjadi semakin baik. Untuk itu, agar semakin aerodinamis, profil melingkar Grip’n’Groove dipasang di seluruh permukaan Jabulani.
“Guratan pada tekstur kulit luar dari bola juga membuat pemain memiliki sentuhan yang erat pada bola di berbagai kondisi cuaca. Bahkan mencegah bola menjadi licin saat bermain di ketika cuaca hujan dan lapangan basah,” jelas Harland.
Diberi nama Jabulani, kata dalam bahasa Zulu yang berarti merayakan, Adidas mengklaim bahwa bola tersebut merupakan bola paling akurat dan bulat sempurna yang pernah dibuat. Jabulani juga disebut 30 persen lebih stabil di udara dibandingkan bola yang umum digunakan dekade yang lalu.
One Response to “Pro Kontra Bola Jabulani”
ARTIKEL LAINNYA
- glministry new feature
- Indonesia, Negara Keempat Pengakses Situs Porno
- Kapolri: Sudah Cukup Bukti Untuk Jadikan Ariel Tersangka
- Tersangka, Ariel Serahkan Diri ke Mabes Polri
- Sumpah Pernikahan, Sampai Maut Memisahkan
- Sebanyak 97 Persen Siswa SMP Pernah Menyaksikan Video Asusila
- Terlalu Banyak PR, Anak-Anak Kurang Bermain
- Tarif Listrik Naik Mulai 1 Juli
- Pengguna Jasa PSK Sulit Terjangkau Program HIV/AIDS
- Pesta Piala Dunia Segera Dimulai!





Ya bola yang pada waktu di kontrol atau di tes di lab memang ok.., tapi apakah bola yang sudah diproduksi massal / banyak, kualitasnya tetap sama dengan yang di tes di lab? dan kenapa juga yang tes itu bola, si robot? memangnya yang mau main pakai bola itu robot? kenapa bukan manusia pemain bola? seharusnya kan tanya dulu pada para pakar bola, setidak-tidaknya para pemain bola profesional gitu..?