Bagaimana mendengar suara Tuhan
Ada banyak hamba Tuhan yang mengaku bahwa ia pernah mendengar suara Tuhan, walaupun ia tidak pernah menjelaskan dengan jelas bentuk audio suara Tuhan, yakni apakah suaraNya terdengar berat dan dalam, atau ringan? Kemudian bagaimana dengan intonasinya, apakah Tuhan berbicara dengan nada cepat, atau perlahan-lahan?
Kitab di Perjanjian Lama, menggambarkan suara Tuhan bagi bunyi angin sepoi-sepoi, tetapi ada juga yang melaporkan suaraNya bagai bunyi desau dan gemuruh yang sangat keras. Tak penting seperti apa bentuk suara Tuhan secara audio, tetapi bagaimana bisa mendengar suara Tuhan.
Untuk mendengar suara Tuhan, seseorang harus mempercayai bahwa Allah adalah Allah yang hidup, Allah yang memiliki telinga untuk mendengar dan tangan untuk menolong, dan memiliki kehendak untuk mengambil keputusan dan bertindak. Allah, tidak dapat disejajarkan dengan manusia yang terbatas dalam segala sesuatu. Namun terhadap manusia ini, Allah berkenan membelas kasihani, mengasihi dan memberitahukan pikiranNya. Memberi tahu pikiranNya, artinya Ia menyatakan kehendakNya dengan lengkap dan jelas.
Tak cukup hanya mempercayai Dia, melainkan juga mengenal siapa Dia. Dengan mengenal siapa Tuhan, tentu mudah untuk mengetahui kehendak Tuhan. Dengan mengetahui kehendakNya, pada saat Ia berbicara, kita bisa meyakinkan bahwa itu memang suara Tuhan.
Tapi, jangan lantas mengganggap bahwa mendengar suara Tuhan berarti mendengarNya semata-mata dalam bentuk audio. Sebabnya, suara Tuhan terkadang begitu lembut, sehingga nyaris kita tidak bisa ‘mendengarnya’ melalui telinga jasmani. Sedemikian lembut suara Tuhan, sehingga pada saat Ia berbicara, kita bagai mendapat ‘kesan’ yang mendadak muncul dalam hati dan pikiran. ‘Kesan’ ini bisa dalam bentuk pikiran yang tiba-tiba atau spontan untuk mendoakan seseorang.
Untuk dapat mendengar suara Tuhan, perlu belajar menenangkan pikiran dan perasaan, agar dapat berfokus pada pikiran dan perasaan yang Ia letakkan. Jika Anda tidak tenang atau tidak fokus, seringkali Anda hanya memikirkan apa yang Anda ingin pikirkan, yakni diri Anda sendiri.
Dalam usaha Anda untuk mendengar suara Tuhan, jangan lupa selalu menyediakan pena dan buku catatan. Segeralah tulis setiap pemikiran yang menurut Anda adalah suara dari Tuhan. Pencatatatan ini memungkinkan Anda untuk bisa sewaktu-waktu menguji apakah itu suara Tuhan atau bukan. Catatan ini juga berfungsi sebagai arsip dari dialog Anda bersama Tuhan, saat Anda makin intens dalam mendengar suaraNya.
Menulis suara Tuhan, dalam Alkitab, adalah konsep yang alkitabiah. Para nabi pun diperintahkan untuk menuliskan titah Tuhan. Tapi, sebelum Anda masuk ke dalam babak baru untuk mengenal suara Tuhan, lebih baik Anda membaca sampai habis isi Alkitab, karena inilah catatan atau transkrip suara Allah yang sudah teruji keotentikannya.
Selain memperdengarkan ‘suaraNya’. Tuhan juga berbicara melalui kunjungan atau pelayanan malaikat, hambaNya, saudara-saudara seiman, bahkan binatang seperti yang tertuang dalam kisah Bileam.
ARTIKEL LAINNYA
- Menebar Keamanan di hari Natal
Polisi Daerah Lampung sejak hari ini telah menurunkan sniper untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru 2009
- Penerbangan ekstra dari Garuda Indonesia Kabar baik bagi Anda yang gemar berpelesir. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang
- Robinho I'll be home for Christmas
Syair lagu I’ll Be Home for Christmas tepat menggambarkan perasaan bintang sepakbola Manchester City, Robinho, yang merayakan natal tahun ini di rumahnya yang baru
- Ketidakabadian Michael jackson
- Jepang berikan bantuan MRT
- Krisis Global dan Secercah Harapan di Tahun 2009
