Pdt. Bigman Sirait:
Penyakit sebagai ujian iman
Kejatuhan manusia ke dalam dosa merembet pada penghukuman, Hawa susah payah waktu mengandung, kesakitan waktu melahirkan anak. Di sini kita belajar, pertama penyakit memang akibat dari dosa. Karena dosa, manusia mengenal sakit.
Jika tidak berdosa, manusia tidak mengenal sakit. Tetapi di masa kini, jangan katakan semua penyakit karena dosa. Seakan-akan orang sakit berdosa, dan yang tidak sakit, tidak berdosa. Padahal banyak koruptor, dosanya sangat banyak tetapi tidak sakit. Sementara beberapa orang benar di Alkitab, mengalami sakit. Ayub harus menggaruk-garuk kulitnya dan menimbulkan luka. Duri dalam tubuh Paulus tidak bisa dicabut, dan Timotius harus meminum sedikit anggur supaya penyakit pencernaannya reda.
Dosa mendatangkan sakit, itu betul. Tetapi di masa kini, tidak semua penyakit karena dosa. Penyakit pun bisa dipakai Tuhan untuk menguji dan menumbuhkembangkan iman seseorang. Penyakit bisa menjadi teguran atau hukuman dari Tuhan, tetapi bisa juga karena kelengahan kita.
Dosa mengakibatkan kemerosotan dan menurunnya kualitas hidup, sehingga manusia yang seharusnya tidak mengalami ketuaan dan tidak mengalami sakit-penyakit, sekarang mengalami kemerosotan. Umur Adam memang tinggi, namun usia generasi selanjutnya makin pendek. Dunia boleh makin modern, gizi makin baik, tetapi angka kematian muda tetap tinggi. Karena teknologi makin tinggi, pola makan dan gaya hidup pun tidak karu-karuan. Jadi, kemajuan manusia tidak bisa mencegah apalagi meniadakan sakit, jutru jenis penyakit terus bertambah.
Seperti diulas di atas, orang benar pun bisa menderita sakit, karena hakekat manusia memang sudah berdosa. Sakit itu sesuatu yang normal, cuma ada yang sering sakit-sakitan, ada yang jarang sakit. Itu tergantung gizi dan cara hidup. Orang berdosa pun, jika cara hidupnya tertib, olahraga cukup, makan teratur, hidupnya pasti sehat. Jadi, jangan menghina diri dengan berkata bahwa orang sakit itu berdosa. Itu namanya menghina Paulus, Ayub, Timotius.
Tak perlu sesali datangnya penyakit, tetapi bagaimana hidup benar sehingga sakit dan penyakit menjadi bagian yang harus kita lewati. Kalau ada orang sakit lalu meninggal, jangan pula disesali. Tuhan punya banyak cara untuk memanggil orang. Yang penting, apakah orang yang dipanggil itu beriman atau tidak? Bila tidak, kita pantas sedih. Jangankan sakit atau mati, dia sembuh pun, kita tetap sedih jika hidupnya tidak benar.
Jadi, di tengah pergumulan sebagai orang berdosa, dengan seluruh kelemahan tubuh, kita harus bijaksana memelihara kesehatan, supaya dengan tubuh sehat kita bisa mengabdi kepada Tuhan sesuai profesi kita.
Saya berharap, ini bisa mencerahkan kita, sehingga hubungan dengan Tuhan (menjadi) yang paling penting, bukan apa sakit-penyakit kita. Bagi Saudara yang sedang terbaring sakit, periksa diri baik-baik. Kalau kau beriman pada Tuhan, bahagialah sekalipun sakit, karena Tuhan hidup dalam hati. Tetapi kalau sedang sakit dan tidak berhubungan baik dengan Tuhan, minta ampunlah, karena hidup benar dan beriman itu paling penting. Apa pun penyakitmu, Dia bisa sembuhkan, tetapi hubungan dengan Tuhan, itu yang paling utama.
ARTIKEL LAINNYA
- Menebar Keamanan di hari Natal
Polisi Daerah Lampung sejak hari ini telah menurunkan sniper untuk mengamankan perayaan Natal dan Tahun Baru 2009
- Penerbangan ekstra dari Garuda Indonesia Kabar baik bagi Anda yang gemar berpelesir. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang
- Robinho I'll be home for Christmas
Syair lagu I’ll Be Home for Christmas tepat menggambarkan perasaan bintang sepakbola Manchester City, Robinho, yang merayakan natal tahun ini di rumahnya yang baru
- Kelahiran Yesus Kristus
- Makna Iman
- Krisis Global dan Secercah Harapan di Tahun 2009

