Menghirup aroma kebebasan di Turki
Beberapa hari sesudah bebas dari tahanan, pada 22 Juli 2008, Mohsen Namvar, 44 tahun, seorang Kristen asal Iran, menyingkir ke Turki bersama keluarganya. Mohsen ditangkap pada akhir Mei kemarin, dan baru dibebaskan pada 26 Juni 2008. Keluarga Namvar sendiri sudah memberikan uang jaminan sebesar 43 ribu dolar Amerika Serikat (AS), tetapi aparat menolak untuk memberikan tanda bukti.
Selama ditahan oleh aparat setempat, Mohsen juga mengalami pelbagai penyiksaan keji. Ia sempat menderita deman, cidera punggung, tekananan darah yang melonjak tinggi, kejang-kejang di bagian tungkai dan lengan, dan berulang kali hilang ingatan.
“Tak diragukan lagi, mereka ingin membunuh saya selama penahanan itu,” kenang Namvar.
Namvar memeluk agama Kristen sejak masih berusia remaja, tepatnya sejak ia berusia 15 tahun, “Aku tidak pernah tahu siapa Yesus, sejak Ia mendatangiku melalui mimpi,” Mohsen mengenang. “tapi sejak (mimpi) itu, aku setia mengikuti Yesus dan bersaksi mengenai Dia!” tandasnya. Di Iran, setiap orang yang meninggalkan agama negara dan berpindah ke agama Kristen, akan dicap murtad dan bisa dijatuhi hukuman mati.
Selama enam tahun belakangan ini, ia kerap didera oleh aparat, karena menolak untuk memberi informasi mengenai orang-orang Iran lainnya yang berpindah agama, dan keberadaan rumah yang difungsikan sebagai gereja, di Iran. Tahun kemarin, Mohsen ditangkap dan disiksa dengan alat setrum, karena diduga membaptis seorang mualaf di Iran.
Meski hidup sebagai minoritas di Iran, Mohsen giat mengajarkan dan mengotbahkan kebenaran Kristus, sejak tahun 1990. Pada tahun 2001, untuk pertama kalinya, Mohsen ditahan aparat karena menyebarkan traktat di tempat pengisian bensin, “Saya sempat berada di bui salama tiga hari,” tutur Mohsen.
Usai kejadian itu, polisi lokal menuntut Mohsen untuk mengajukan ijin tiap kali memasuki kota terdekat. Sejak itu, Mohsen dan keluarganya pindah ke Teheran. Di sana, ia kesulitan mencari kerja, karena kepercayaannya kepada Kristus. Banyak perusahaan---yang setelah mengetahui agama Mohsen---menolak lamarannya. Untuk menghidupi keluarganya, Mohsen menterjemahkan buku-buku berbahasa Inggris ke dalam bahasa Persia.
Sering sesudah mengalami penyiksaan, Mohsen harus menjalani operasi untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Usai dioperasi, meski bisa berjalan kembali, seringkali ia merasa kesakitan dan tidak nyaman di sekujur tubuhnya.
Adalah United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) yang memfasilitasi permintaan suaka Mohsen ke Ankara, Turki. Perlu waktu 11 bulan bagi UNHCR, untuk memproses permintaan suaka Mohsen. “Kami sempat putus asa, dan begitu sedih,” ujar isteri Mohsen, di masa-masa penantian itu. “Kami begitu tertekan di Iran,” katanya lagi.
Selama Mohsen ditahan, isterinya juga mengalami saat-saat yang menegangkan. Ia berulangkali diteror, diancam untuk dibunuh. Bahkan, salah satu dari peneror itu---yang adalah kepolisian setempat---berusaha untuk menculik anak mereka.
Kini, hampir 15 ribu aplikasi yang diajukan pencari suaka, tengah diproses di Ankara, yang merupakan pusat UNHCR terbesar di Eropa. Dijelaskan Mohsen, mereka sempat terkejut saat menjalani proses wawancara oleh petugas UNHCR, yang hanya memakan waktu enam menit. Petugas juga tidak menanyakan alasan mengapa Mohsen meninggalkan Iran, atau menyinggung mengenai dokumentasi sehubungan dengan kasus mereka. Padahal, pertanyaan ini harus diajukan sesuai dengan standardisasi UNHCR.
ARTIKEL LAINNYA
- Umat Kristen Terhambat di Laos
- Penerbangan ekstra dari Garuda Indonesia Kabar baik bagi Anda yang gemar berpelesir. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang
- Robinho I'll be home for Christmas
Syair lagu I’ll Be Home for Christmas tepat menggambarkan perasaan bintang sepakbola Manchester City, Robinho, yang merayakan natal tahun ini di rumahnya yang baru
- Penyakit sebagai ujian iman
- Makna Iman
- Krisis Global dan Secercah Harapan di Tahun 2009

