Umat Kristen terhambat di Laos
Pemerintah Laos, awal Agustus ini, menangkap setidaknya 90 orang Kristen di tiga provinsi yang berbeda, termasuk seorang pendeta dan dua orang Kristen lainnya yang diciduk di sebuah rumah gereja, di desa Boukham, Savannakhet. Kedua provinsi lainnya yaitu: Saravan dan Luang Prabang.
Dalam sebuah kejadian di bulan Juli 2008, di desa Katin, provinsi Saravan, beberapa warga di sana menganiaya seorang Kristen bernama Pew, dengan menuangkan minuman keras yang terbuat dari beras ke tenggorokannya. Minuman itu membanjiri paru-paru Pew, dan membinasakannya seketika.
Saat keluarga Pew mengadakan upacara pemakaman, dan meletakkan salib yang terbuat dari kayu, pejabat desa menuduh keluarga tersebut mempraktikkan ritual yang bertentangan dengan negara. Tidak sekadar menuduh, pejabat desa juga menyita ternak milik keluarga Pew.
Akibatnya, tak lama kemudian, 80 orang Kristen lainnya---termasuk wanita dan anak-anak---ditahan selama tiga hari, tanpa diberi makanan. Selama itu pula, mereka dipaksa untuk beralih agama.
Sedangkan peristiwa penangkapan di desa Boukham, Savannaketh, pada 3 Agustus 2008, terjadi pada saat Pendeta Sompong tengah memimpin kebaktian Minggu di rumahnya, bersama dua orang pelayan, Boot dan Khamvan. Sebelum kisah kelabu di bulan Agustus itu, Pendeta Sompong dan beberapa orang Kristen lainnya dari desa Boukham, juga sempat menginap selama dua hari di penjara Dong Haen. Waktu itu, 63 orang Kristen lainnya yang menjadi jemaat Pendeta Sompong, diancam dipenjarakan apabila tetap mengikuti ibadah yang diselenggarakan Pendeta Sompong.
Alih-alih berhenti beribadah, mereka tetap menyelenggarakan ibadah tersebut sampai selesai. Akibatnya, Pendeta Sampong dan dua pelayan lainnya, Kai dan Phuphet dijebloskan ke penjara Dong Haen. Sementara aparat lainnya, tetap tinggal di desa. Sewaktu ibadah dilanjutkan, aparat kembali merangsek rumah gereja tersebut, dan menahan seorang gadis remaja bernama Kunkham, yang juga melayani sebagai salah satu pemimpin di gereja itu. Total ada lima orang yang ditahan di Dong Haen dengan kaki yang terpasung. Otoritas mendakwa mereka dengan tuduhan penyebaran literatur Kristen dan mempercayai agama yang tidak diijinkan negara.
Meski undang-undang (UU) Laos menjamin kebebasan beragama dan beribadah, keberadaan gereja dan persekutuan Kristen, harus mendapat ijin terlebih dulu dari pemerintah. Di sana, tidak semua gereja bisa mendapat ijin, karena aturan dan pembatasan yang sangat ketat, termasuk aturan dalam tata cara dan kegiatan beribadah. Akibatnya, banyak gereja yang memilih untuk tidak mendaftarkan diri.
Pada Juli 22 2008, beberapa orang Kristen mendekati departemen agama di Savannakhet, dan menanyakan alasan di balik penahanan Pendeta Sompong dan pelayan-pelayan gereja lainnya. Mereka juga menyinggung mengenai dakwaan yang ganjil, yakni tuduhan menyebarkan injil di tengah-tengah ibadah.
Tak lama kemudian, Sompong dan rekan-rekannya dibebaskan, dengan kondisi mereka harus menghindari pertemuan ibadah. Dan apabila tetap bersikukuh untuk mengadakan pertemuan ibadah, harus mendapat ijin dari pejabat desa.
ARTIKEL LAINNYA
- Menghirup aroma kebebasan
- Penerbangan ekstra dari Garuda Indonesia Kabar baik bagi Anda yang gemar berpelesir. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang
- Robinho I'll be home for Christmas
Syair lagu I’ll Be Home for Christmas tepat menggambarkan perasaan bintang sepakbola Manchester City, Robinho, yang merayakan natal tahun ini di rumahnya yang baru
- Penyakit sebagai ujian iman
- Makna Iman
- Krisis Global dan Secercah Harapan di Tahun 2009

