Patrick Hamilton:
Relakan Raga Demi Kristus
Seorang Skotlandia bernama Patrick Hamilton (1527-1558), hidup di masa Marthin Luther muncul dengan ajarannya yang memicu kontroversi. Ini memicu Hamilton untuk mempelajari kebenaran Alkitab bersama ketiga rekannya, di Universitas Marburg, Jerman. Di sana, Hamilton bergaul akrab dengan Marthin Luther dan Phillip Melanchthon, teolog Jerman yang juga menulis makalah mengenai doktrin Kristen dengan ekstensif. Hamilton pun meninggalkan Gereja Roma dan beralih ke Protestan.
Ketika kembali ke Skotlandia, Hamilton mengajarkan keyakinannya yang baru, kepada penduduk di Skotlandia, yang ia lakukan bersama ketiga temannya. Manuver Hamilton dan teman-temannya, mengundang perhatian dari James Beaton, Uskup Agung dari kepausan Roma, yang segera melayangkan surat panggilan dari mereka.
Hamilton yang tengah-tengah berapi memberitakan kebenaran injil, tanpa berpikir panjang memenuhi panggilan itu, “Ini kesempatan yang baik untuk dapat memperdebatkan doktrin Gereja Roma dengan mereka (kepausan Roma),” pikir Hamilton saat itu. Tak disangka, panggilan yang dikira Hamilton sebagai kesempatan untuk berdiskusi itu malahan berujung pada penangkapan.
Ya, usai berdiskusi singkat, Uskup Agung menginstruksikan agar Hamilton dikurung dan dipenjarakan di bagian kuil St. Andrews, di tempat yang paling menjijikkan. Keesokan harinya, Hamilton diajukan di depan sidang uskup. Ia dikenai tuduhan menganut agama bidat. Ini karena agama Kristen Protestan---yang saat itu dituduh sebagai ajaran bidat---tidak menyetujui konsep api penyucian, doa kepada orang kudus, doa kepada orang mati, dan keyakinan bahwa Paus tidak mungkin untuk berbuat salah.
Hukuman yang dijatuhkan kepada Hamilton tidak tanggung-tanggung: hukuman mati, yakni dengan cara membakar Hamilton hidup-hidup, dan dilaksanakan hari itu juga saat keputusan pengadilan dijatuhkan.
Banyak orang yang terperanjat dengan keputusan itu. Pasalnya, mereka mengira kekaisaran Roma sekadar menakut-nakuti Hamilton agar bersedia meninggalkan agama barunya dan kembali ke ajarang semula. Apalagi eksekusi itu dilaksanakan sehari sesudah Hamilton bersedia menemui Uskup Agung.
Saat di bawa ke tiang pembakaran, Hamilton bertelut dan berdoa. Usai berdoa, ia menemukan dirinya terbelenggu di tiang di mana di sekelilingnya terdapat tumpukan kayu api. Satu di antara kantong bubuk mesiu diletakkan di ketiaknya masing-masing. Saat dinyalakan, bubuk itu tidak meledak dan hanya menghanguskan tangan dan mukanya tanpa melukainya. Kemudian, beberapa tambahan bubuk mesiu dan kayu kering diletakkan di atas kayu api itu, dan kembali dinyalakan. Lagi-lagi bubuk mesiu tidak meledak, tetapi hanya menyala dan mengakibatkan kobaran api menyelubungi tubuh Hamilton.
Saat api itu itu kian berkobar, terdengar suara Hamilton yang membahana, “Tuhan Yesus, terimalah rohku! Beberapa lama kegelapan akan menutupi wilayah ini? Dan berapa lama Engkau mengijinkan tirani orang-orang ini?”
Tak lama kemudian, api membakar dengan perlahan, yang mengakibatkan Hamilton kian menderita. Namun, di tengah penderitaan hebat yang dialaminya, Hamilton menunjukkan ketabahannya untuk tetap menyatakan kebenaran Kristus, meski itu berarti ia harus meninggalkan raganya.
ARTIKEL LAINNYA
- Para Martir Negeri Tirai Bambu
- Penerbangan ekstra dari Garuda Indonesia
Kabar baik bagi Anda yang gemar berpelesir. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang
- Robinho I'll be home for Christmas
Syair lagu I’ll Be Home for Christmas tepat menggambarkan perasaan bintang sepakbola Manchester City, Robinho, yang merayakan natal tahun ini di rumahnya yang baru
- Ketidakabadian Michael jackson
- Jepang berikan bantuan MRT
- Krisis Global dan Secercah Harapan di Tahun 2009

