Kiat Menjaga Kemesraan Bag I

Dulu, sebelum menikah, hubungan Anda dan suami begitu mesra. Tiada hari Anda lewati tanpa perlakuan istimewa dari si dia, seperti kiriman SMS mesra, hadiah, dan kejutan-kejutan kecil lainnya. Maklum, waktu itu pangeran Anda sedang ‘berjuang’ untuk membawa Anda ke istananya. Kini, usai Anda menjadi ratu dalam hidupnya, ia pun merasa perjuangannya sudah selesai, seiring dengan berlalunya perlakuan mesra yang dulu ia berikan pada Anda.
Jika Anda membiarkan keadaan ini berlarut-larut, bisa jadi pernikahahan Anda akan menjadi hambar. Anda tentu tidak mau itu terjadi bukan? Sebab itu Anda harus menjaga kemesraan dengan menjaga motivasi Anda menikahi dia. Ya, ingatlah dan galilah kembali hal-hal apa yang membuat Anda tergila-gila padanya. Tak ada salahnya, di akhir pekan, Anda dan suami mengunjungi kembali tempat-tempat favorit di saat pacaran dulu.
Kemesraan juga akan terjaga apabila Anda dan pasangan saling memupuk rasa percaya. Dengan kepercayaan, Anda dan suami tidak perlu saling mengawasi atau menaruh curiga berlebihan. Walhasil, Anda berdua akan merasa nyaman dan berbahagia dalam kehidupan pernikahan,
Tapi, kepercayaan tanpa komunikasi yang intens, tentu tidak akan menciptakan kemesraan. Sebabnya, dengan komunikasi Anda dapat saling mengungkapkan rasa sayang dan ini berarti menambah keintiman relasi sebagai suami-isteri. Komunikasi juga harus tetap terjalin meski Anda dan suami sedang terlibat konflik, agar bisa segera diselesaikan. Dan, meski sedang dilanda prahara, bukan berarti Anda bebas mengeluarkan kata-kata kasar, makian, dan hinaan lainnya dalam berkomunikasi.
Ingat, bagian dari komunikasi adalah mendengarkan untuk dapat memberikan respon yang tepat, hindara berbicara tiada henti.
Sebagai isteri, Anda merasa memiliki wewenang terhadap kehidupan suami. Itu benar, tapi lantas bukan berarti Anda bisa bertindak sewenang-wewenang. Anda tidak perlu membatasi minat suami hanya kepada diri Anda terus-menerus, atau membatasi siapa saja yang boleh berhubungan dengan suami Anda. Biarkan suami Anda mengembangkan bakat sesuai dengan minatnya, termasuk hubungan sosialnya dengan orang lain.
Anda tentu sering mendengar istilah ‘cinta buta’, yang merujuk pada seseorang yang sedang tergila-gila dengan kekasihnya tak peduli apapun kekurangannya. Saya yakin, di masa pacaran dulu, Anda juga pernah merasakan fase ini. Pokoknya di mata Anda, si dia adalah pribadi yang sempurna, meski sebagai manusia biasa kekurangannya pun tak kalah banyaknya. Seiring dengan berjalannya waktu, Anda pun mulai berpikir jernih dan menemukan ‘sisi-sisi’ lain dari dia yang selama ini tidak Anda lihat.
Cobalah untuk menerima ‘sisi lain’ ketimbang mengeluh mengapa Anda tidak melihatnya sejak dulu. Sebabnya, janji pernikahan Anda ‘menuntut’ Anda untuk terus mendampingi si dia sampai maut memisahkan. Lagipula, Anda pun pasti juga memiliki kekurangan sama seperti dia. Nah, jika si dia saja memilih untuk abai terhadap kekurangan Anda, mengapa Anda tidak? Saran saya, ketimbang melihat ‘sisi lain’ suami dengan pandangan yang negatif, mengapa tidak mengganggap itu sebagai suatu keunikan?

