Menebar Kemarahan Dengan Cara Yang berbeda
Anda sudah menikah selama lima tahun. Sebelum menikah, Anda bahkan sudah berpacaran dengannya selama lima tahun. Tapi, tetap saja ada masa di mana Anda tidak bisa memahami kelakuannya, dan berpuncak pada emosi yang tak terkendali. Bertahun-tahun berhubungan ternyata bukan jaminan bahwa Anda mengerti sepenuhnya kepribadian pasangan, dan tidak bakal menebar murka. Sah-sah saja untuk marah terhadap pasangan, tapi Anda harus belajar untuk mengungkapkan kemarahan di waktu dan cara yang tepat, supaya hubungan tetap terjaga.
Sebelum Anda marah, pastikan bahwa Anda dan suami memiliki pemahaman yang sama terhadap masalah yang bakal memancing kemarahan itu, yakni pangkal dari masalah itu. Anda dan suami juga harus sepakat mengenai tindakan apa yang akan diambil apabila pembahasan mengenai masalah itu menemui jalan buntu. Pastikan bahwa solusi yang diambil menguntungkan kedua belah pihak. Jika ternyata pembahasan masalah itu tidak membawa hubungan Anda ke level yang lebih tinggi, lebih baik Anda tutup mulut dan tidak mengungkit-ungkit masalah itu.
Memang, Anda tidak dilarang untuk marah, tapi cobalah untuk marah dengan efisien. Artinya, cukup sekali nyatakan apa yang Anda membuat Anda marah, jangan berulangkali. Alih-alih memahami penyebab kemarahan Anda, malahan suami bakal menutup telinga dan memalingkan diri dari Anda. Ini tentuk tidak ingin Anda alami ‘kan? Dan, jika suami sudah menyatakan niat baiknya untuk mendukung Anda dalam menanggulangi masalah, ini saat yang sangat tepat untuk membiarkan mulut Anda beristirahat.
Jangan pernah mengeluarkan pernyataan seperti, “Kamu selalu menyakiti hati saya”, atau “Kamu tidak pernah menyenangkan saya”, ini sama dengan mengatakan bahwa perbuatan ia selalu salah. Padahal, kalau ia selalu berbuat salah, Anda tentu tidak mau menikahinya bukan? Sebab itu, lebih baik gunakan kata-kata seperti, “Sewaktu kamu membohongi saya dengan mengatakan bahwa kamu bekerja, padahal kamu pergi memancing, saya sakit hati”, atau, “Saya tidak senang sewaktu kamu lebih memilih bermain futsal daripada menemani saya”. Dengan menggunakan kata yang fokus, pasangan Anda akan memahami kemarahan sebagai serangan dari kesalahan yang ia lakukan, bukan serangan kepada kepribadiannya.
Jika keinginan untuk marah sudah tak terbendung, Anda harus meyakinkan diri untuk tidak memendam kemarahan itu, seperti kata Paulus, “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam sebelum padam amarahmu,” kepada jemaat di Efesus.
Selain itu, Anda harus belajar bahwa kemarahan tidak identik dengan intonasi suara yang keras atau meledak-ledak. Dengan kata-kata yang menggambarkan kemarahan seperti, “Saya marah karena…”, Anda masih bisa mengungkapkan dengan nada yang biasa. Tidak mudah memang untuk menjadi marah tanpa mengekspresikan kemarahan tersebut. Tapi jika Anda berhasil melakukannya, Anda bisa melindungi diri Anda sendiri dari penyakit, dan resiko memburuknya hubungan dengan suami Anda.
Ya, saat Anda marah tekanan darah meningkat, hormon stress meninggi, nafas menjadi pendek, jantung berdebar, dan tekanan darah meningkat, akibatnya Anda rentan terhadap penyakit!

