Self Sex Pleasure: Bolehkah?
Yulia sedang pusing tujuh keliling. Betapa tidak, ia baru saja menikmati fase baru dalam hidupnya sebagai seorang isteri, tetapi dalam waktu dekat ia pergi ke luar negeri untuk waktu yang lama karena tugas kantor. Suami Yulia sendiri tidak keberatan, tetapi karena suami Yulia memilih untuk tetap berkarir di dalam negeri, mereka pun dihadapkan pada masalah baru: yakni bagaimana memenuhi kebutuhan biologis mereka. Sempat terlintas di benak Yulia, bahwa ia akan merangsang dirinya sendiri dengan membayangkan suaminya, demikian juga dengan suaminya. Benarkan tindakan ini diperbolehkan?
Prinsip hubungan suami-isteri menurut Firman Tuhan, yakni
bahwa Tuhan merancang hubungan seks sebelum manusia jatuh dalam dosa. Dengan
demikian hubungan seks menjadi hubungan yang kudus dan indah dengan syarat:
Pertama, dilakukan pada saat yang tepat (setelah menikah), dan kedua, dilakukan
dengan orang yang tepat (pasangan hidup).
Ayat lain juga menegaskan bahwa hubungan seks tidak pernah dirancang Tuhan untuk
dilakukan sendirian, “Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap
isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas
tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas
tubuhnya sendiri, tetapi isterinya”, 1 Korintus 7:3-4.
Itulah sebabnya tindakan merangsang diri sendiri atau masturbasi tidak diperkenankan oleh firman Tuhan, meski yang dijadikan obyek adalah suami atau isterinya sendiri. Sebabnya, jika perbuatan ini dilakukan terus-menerus, pelaku akan terbiasa dan bisa jadi tidak lagi memiliki hasrat untuk melakukan hubungan seksual secara normal. Padahal---seperti yang tadi disebutkan---hubungan seks yang dirancang oleh Tuhan dimaksudkan untuk dilakukan berdua, bukan seorang diri! Biasanya, usai merangsang diri sendiri, pelaku akan merasa bersalah dan ini akan menggangu pertumbuhan rohaninya.
Sepasang suami-isteri yang terbiasa merangsang dirinya sendiri, bisa menggunakan upaya ini sebagai pelarian apabila mereka tengah mengalami konflik. Jika konflik tak diselesaikan, suami-isteri tentu tidak akan memiliki keinginan untuk memiliki hubungan intim. Tapi, karena mereka bisa menggunakan cara lain untuk memenuhi kebutuhan biologis mereka tanpa harus menyelesaikan masalah, walhasil konflik pun tak akan terselesaikan.
Lantas, bagaimana jika karena tuntutan profesi, suami dan isteri harus berjauhan dalam waktu lama? Memang, dengan adanya kecanggihan teknologi, suami-isteri bisa tetap berkomunikasi meski tidak tinggal di dalam belahan dunia yang sama, tapi tidak untuk menjalin relasi seksual. Jika ini terjadi pada Anda, hal penting yang harus Anda sadari yakni bahwa anugerah Allah cukup bagi Anda. Termasuk untuk kebutuhan biologis Anda. Ia bisa menolong Anda untuk mengendalikan kebutuhan seksual tanpa harus berbuat dosa. Ya, Tuhan juga bisa membantu Anda melenyapkan dorongan seksual yang menggebu-gebu,. Sebaliknya, pada saat Anda bersua kembali dengan suami, Ia pun juga bisa memulihkan gairah seksual Anda.

