The Painful Beauty I
Adagium “no pain, no gain” atau “no gain without pain”, adalah moto yang dipopulerkan aktris Jane Fonda saat memproduksi acara senam aerobik di televisi pada tahun 1982. Lambat-laun frase yang berarti “tidak mendapatkan apa-apa tanpa (rasa) sakit” ini tidak hanya berlaku bagi olah tubuh. David Morris misalnya, ilmuwan dari Amerika Serikat (AS) ini memaparkan, bahwa moto ini dapat juga diartikan sebagai jalan menuju pencapaian yang hanya bisa dilewati melalui beragam kesulitan.
Beratus-ratus tahun yang lampau, di belahan dunia timur, jargon ini rupanya menjadi makanan sehari-hari kaum perempuan di Negeri China, tepatnya di era tahun 618 hingga tahun 907. Di masa itu, wanita China dikatakan cantik apabila memiliki bentuk kaki yang mungil dengan ukuran 10 hingga 15 sentimeter. Padahal, wanita Asia umumnya memiliki ukuran kaki sekitar 36 hingga 40 sentimeter.
Walhasil, untuk mendapatkan bentuk kaki yang didambakan, mereka lalu melipat empat jari kaki ke bagian bawah dan menari ibu jari kaki mendekati tumit, dan membalutnya erat-erat dengan menggunakan kain atau yang dikenal juga sebagai foot binding. Kemudian, setiap hari pembalut kaki semakin diperketat, dan pemiliknya terpaksa menggunakan sepatu yang berukuran sangat kecil. Akibat balutan yang terlalu ketat, timbul buku-buku di kaki yang harus dipotong dengan pisau. Pengikatan kaki juga menghambat siklus darah dan menyebabkan daging kaki menjadi busuk dan bernanah.
Di benua Afrika, beberapa kebudayaan setempat menilai kecantikan perempuan berdasarkan ukuran mulutnya. Artinya, semakin lebar mulut seorang perempuan, itu artinya ia semakin cantik. Tapi sama seperti di China upaya untuk melebarkan paksa ukuran mulut ini juga tak kalah menyakitkan.
Kebanyakan perempuan Mursi salahsatu nama suku di Afrika mulai memperbesar ukuran mulut pada usia 13 hingga 16 tahun. Dengan cara mengiris bagian bawah bibir sepanjang satu hingga dua sentimeter, lalu memasukan piring bulat ke dalam irisan luka itu. Usai luka mengering yang biasanya memakan waktu dua hingga tiga minggu piring tersebut ditukar dengan ukuran yang lebih besar, hingga mencapai diameter 10 hingga 15 sentimeter, bahkan 25 sentimeter! Tradisi ini dikenal juga sebagai lip plate.
Meski menyakitkan, untuk beberapa waktu tradisi foot binding maupun lip plate tetap dilaksanakan mentah-mentah oleh kaum perempuan di masa itu. Sebab, perempuan yang menolak untuk mengikuti tradisi tersebut baik di China maupun di Afrika akan mendapat sanksi sosial. Di China, seorang pria tidak mau menikah dengan seorang perempuan yang tidak membebat kakinya. Sedangkan di Afrika, adanya jejak lip plate pada bibir seorang perempuan, menandakan bahwa perempuan tersebut layak untuk dinikahi.
Jadi, setujukah Anda dengan moto berikut: no pain, no beautiful?

