Hips in Sixty Eras

Riani mendapatkan undangan reuni dari teman semasa sekolah dasar. Dress code yang tertera pada undangan itu yakni vintage style, sesuai dengan tema yang menjadi pesta reuni tersebut. Gaya vintage sendiri kerap diidentikkan dengan gaya jadul (jaman dulu). Ini karena, dalam dunia fesyen, gaya vintage ditujukan untuk produk-produk yang memiliki nilai lebih dari bertambahnya usia (kebanyakan berasal dari tahun 1920-an hingga 1980-an). Jadi, jika Anda ingin bergaya vintage, pastikan bahwa Anda mengenakan item produk fesyen yang memiliki kemiripan desain dari tahun-tahun tersebut.
Bergaya a la vintage tidak perlu mahal. Cukup sediakan waktu untuk berburu di toko-toko yang khusus menjual barang lama, loak, atau garage dan charity sale, voilla Anda pun siap bergaya vintage. Jika Anda sudah menemukan toko antik yang menjual produk vintage sesuai dengan selera Anda, pastikan bahwa harga yang Anda bayar sesuai dengan kualitas dan asal-usul barang tersebut.
Vintage dari era tahun 1960-an, identik dengan gaya kaum muda yang kala itu dijuluki sebagai generasi baby boom. Plaid shirt atau kemeja kotak-kotak, menjadi trend fashion yang tidak hanya digemari kaum pria, tapi juga wanita. Masih di tahun 1960-an, selain gemar mengenakan plaid shirt, kaum wanita juga senang mengenakan knee-length dress, terusan sepanjang lutut berwarna-warni. Sweater dress juga sempat menjadi fenomenal di tahun itu.
Di pertengahan era tahun 1960-an, tren swinging London mulai marak, yakni masa di mana skirt karya desainer Mary Quant menjadi ikon fesyen di masa itu. Di New York, para wanita mengenakan rok mini 4 hingga 5 sentimeter di atas lutut, dan British youth memilih untuk memakai rok super mini 6 hingga 7 sentimeter di atas lutut, yang dikenal juga sebagai The Chelsea Look. Saat itu, rok mini lazim dipadankan dengan sweater dan tight berwarna senada. Pelbagai mode busana mulai dari Afghan Coats, Indian Peasant, Cheesecloth, safari dan Nehru Jackets, juga sempat menjadi hip di era yang dikenal juga sebagai flower power era dan hippy era.
Sepatu dengan kitten heels rendah serta sepatu berhak stiletto, boot dengan tumit datar atau flat boots populer, memasuki masa kejayaannya saat itu. Di era ini, fesyen unik seperti paper dress yang terbuat dari campuran kertas dan pelbagai bahan lain seperti nilon atau material lainnya, sempat digemari.
Gaya androgin---yakni gaya pria yang bisa diterapkan juga untuk wanita---dan pakaian unisex juga mengemuka di era ini. Dan, item fesyen yang wajib dimiliki oleh fashionista di masa itu yakni: celana bell bottom yang berpotongan lebar dan embellished T-Shirt. Celana bell bottom ini mirip dengan celana boot cut, namun melebar dimulai dari tepat di bawah lutut hingga tumit, dan disebut bel karena menyerupai bentuk bel. Celana unik ini sendiri diinspirasi oleh celana yang biasa dipakai oleh pelaut.

