Strategi Jitu Bekerja di Rumah Bag I
Wanita, perhatikan ilustrasi ini: Anda tamat kuliah dan langsung bekerja di usia. 23 tahun. Kini, usia Anda sudah hampir mencapai 30 tahun, ini berarti---jika semunya berjalan lancar---Anda sudah menjadi seorang pegawai selama lebih dari lima tahun. Dan, selama itu pula Anda kenyang dengan pelbagai tekanan kerja, hiruk pikuk lalu lintas kota, dan hubungan dengan sesama rekan kerja yang tak ubahnya gelombang laut, pasang surut.
Dalam kurun waktu tersebut, tentu Anda terbiasa bangun pagi. Pulang sore atau bahkan lebih malam jika tugas kerja menumpuk. Beristirahat di tiap akhir pekan, dan mengurangi ritual yang sama dari Senin hingga Jum’at. Tiap akhir bulan, Anda akan menerima sejumlah uang yang merupakan upah Anda selama bekerja.
Usai menerima gaji, respon Anda sebagai berikut: senang, karena jumlahnya sesuai dengan ekspetasi Anda. Atau Anda ngedumel tidak karuan karena Anda merasa sudah mengerahkan segala daya dan upaya untuk kepentingan perusahaan, tapi upah yang Anda terima tidak seberapa.
Sekarang, bagaimana kalau ilustrasinya seperti ini: Anda bangun pagi dan menghirup udara segar, dan tidak perlu terburu-buru karena hari itu Anda tidak perlu ke kantor. Masih dalam pakaian tidur, Anda menyesap minuman hangat, dan membukan fitur email di PC Anda. Tak lama kemudian Anda sibuk membalas sejumlah email, bertelekonferensi dengan rekan-rekan bisnis Anda. Atau, sambil menikmati tayangan gosip di televisi, Anda menerima telepon dari sejumlah klien. Dan di akhir bulan---masih tetap di rumah---saat Anda memeriksa rekening melalui layanan E-Banking, jumlah rekening Anda bertambah.
Ya, ini berarti Anda sedang melakukan apa yang disebut sebagai bekerja dari rumah. Di mana Anda melakukan aktivitas yang berujung pada bertambahnya pundi-pundi Anda. Kelebihan dari bekerja di rumah, Anda tidak perlu mengeluarkan uang untuk transportasi, kecuali jika Anda harus bertemu dengan klien. Bekerja dari rumah, berarti Anda bebas dari tekanan kemacetan lalu lintas. Anda juga bebas mengatur waktu kerja Anda sendiri, tidak perlu terikat aturan baku nine to five. Bisa saja Anda bekerja dari sore hingga tengah malam, atau dari malam hingga pagi hari, terserah Anda.
Tapi, bekerja di rumah juga identik dengan pelbagai risiko seperti siap-siap tidak memiliki penghasilan apabila order proyek tak kunjung tiba. Atau, siap-siap kesepian, karena Anda tidak lagi memiliki teman kerja yang bisa diajak untuk ngerumpi dan makan siang bersama. Kecuali kalau Anda masih tinggal bersama kerabat atau orangtua.
Resiko lain, bisa jadi Anda diberi julukan baru, yakni ‘pengangguran’, oleh orang-orang di sekitar Anda. Sebabnya, jika kerabat atau Anda terbiasa melihat penampilan Anda yang rapi jali selayaknya eksekutif muda, mereka tentu bakal heran melihat Anda sehari-hari dengan pakaian seadanya. Bagi Anda yang terbiasa dimanjakan dengan pelbagai fasilitas kantor seperti kendaraan dinas, perjalanan ke luar negeri, tunjangan kesehatan, dan lain-lain, ini tentu tidak akan Anda dapatkan saat bekerja di rumah.
Jadi, masih berminat untuk bekerja di rumah? Jika ya, Anda akan menemukan kupasan lebih dalam di edisi berikutnya.

