Menyoal MSG Pada Makanan
MSG atau monosodium glutamate, sering dikenal sebagai ‘penyedap rasa’, ‘vetsin’, atau ‘mecin’ dan sangat sering digunakan dalam pelbagai makanan di Indonesia, mulai dari masakan rumah, warung kaki lima, hingga restoran. Bahkan, aneka snack untuk anak-anak dan orang dewasa, sering diimbuhi penyedap berbahan kimia ini.
Ya, maraknya penggunaan MSG pada makanan lantaran ada anggapan bahwa masakan tanpa MSG terasa hambar, kurang sedap, dan praktis tidak menerbitkan selera. Apalagi, harganya yang murah, membuat pemakaiannya meluas di mana-mana.
Meski begitu, banyak kalangan mulai dari orang awam hingga ahli kesehatan berpendapat bahwa MSG yang berlebihan sangat berbahaya untuk kesehatan tubuh. Tapi, produsen MSG dengan bersemangat berkilah bahwa hal itu tidak benar.
Memang, kontroversi mengenai apakah MSG merusak kesehatan sampai kini masih diperdebatkan. Konsumsi MSG yang berlebihan, dianggap sebagai penyebab kanker, asma, alergi, kerusakan otak, pusing, dan berbahaya terhadap janin.
Di Amerika Serikat, badan pengawas obat dan makanan mereka menetapkan bahwa batas aman MSG yang bisa dikonsumsi adalah di bawah dua gram. Kalau sudah dua gram sampai tiga gram, maka dapat menyebabkan alergi, menurut hasil penelitian. Dan, bila dikonsumsi hingga lima gram MSG, bisa membahayakan orang yang menderita penyakit asma.
MSG dibuat melalui proses fermentasi dari tetes-gula (molases) oleh bakteri (brevi-bacterium lactofermentum). Dalam peroses fermentasi ini, pertama-tama akan dihasilkan asam glutamat. Asam glutamat yang terjadi dari proses fermentasi ini, kemudian ditambahkan soda (sodium carbonate), sehingga akan terbentuk monosodium glutamat.
MSG sendiri tidak berasa, namun bila digabungkan dengan rasa yang lain, maka ia akan memperkuat rasa tersebut.
Pada dasarnya, MSG bukanlah sebagai penyedap masakan, tapi penguat rasa. MSG bekerja dengan memperkuat rasa masakan yang telah ada, seperti rasa asin, gurih, manis, atau pahit, sehingga masakan menjadi lebih enak. Jadi bisa dibilang MSG mempertegas karakter rasa yang kita kecap di lidah.
Untuk menyikapi masalah ini, Anda dituntut pintar-pintar membuat keputusan: mau mengkonsumsi MSG atau tidak. Kalau tidak, penambahan gula, garam, dan kaldu ayam atau sapi alami bisa dijadikan alternatif pengganti MSG untuk melezatkan masakan.

