Menangkis Autis
Jangan anggap sepele jika anak tak kunjung bicara saat usianya ia sudah berusia lebih dari satu tahun. Bisa jadi ini gejala autisme, yakni gangguan perkembangan yang terjadi di masa kanak-kanak, sehingga seseorang tidak mampu berinteraksi dan seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri.
Ada banyak spekulasi yang beredar mengenai penyebab autisme, salah satunya yakni gagalnya pertumbuhan otak akibat keracunan logam berat, yang berasal dari vaksin imunisasi berpengawet atau melalui makanan yang dikonsumsi ibu yang sedang mengandung. Keracunan logam berat akan mengganggu fungsi lambung, sehingga nutrisi yang diperlukan untuk pertumbuhan otak tidak terserap tubuh, akibatnya anak mengalami gangguan syaraf di otak.
Gangguan syaraf di otak ini membuat anak tidak mampu mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial dan berkomunikasi verbal maupun non verbal sebaliknya ia malah menunjukkan pelbagai gejala yang menyimpang dari anak-anak sebayanya, dan bermasalah dengan sensoris.
Gejala autisme dapat dideteksi sebelum anak mencapai usia tiga tahun, dengan memerhatikan gejala berikut: anak tidak mampu menjalin interaksi yang cukup memadai, kontak mata sangat kurang, ekspresi muka kurang hidup, dan gerak-gerik kurang tertuju. Anak autis tidak dapat bercengkerama dengan teman sebaya, tidak memiliki empati, dan tidak mampu mengadakan hubungan sosial dan emosional.
Sedangkan gejala autisme pada bayi, yakni ia enggan atau menghindari tatapan mata ibunya. Seringkali seorang bayi mengalami tumbuh kembang layaknya anak-anak lainnya, tapi terhenti di usia 12-24 bulan, lalu menunjukkan gejala autis seperti terlambat berbicara, bahkan sama sekali tidak mampu untuk berbicara, Ini bukan karena indera pendengarannya terganggu, atau ia mengalami cacat wicara, melainkan karena keterampilan berkomunikasinya terganggu. Akibatnya, saat berbicara, seringkala ‘suara’ yang dikeluarkan anak tidak cukup layak untuk untuk digunakan dalam berkomunikasi. Ya, anak autis sering menggunakan bahasa yang aneh dan berulang kali menyebutkannya. Saat bermain, anak autis seringkali kurang variatif, kurang imajinatif, dan kurang dapat meniru.
Pelbagai tingkah laku menyimpang yang ditunjukkan anak autis yakni mempertahankan satu minat atau lebih, dengan cara yang sangat khas dan berlebihan. Ia seringkali terpaku pada kegiatan rutin dan ritual yang tidak berguna, melakukan gerakan aneh secara berulang-ulang, dan kerap terpukau pada sebuah benda atau bagian benda. Anak autis juga sering mengalami gangguan sensoris, misalnya saat ia mendengar suara klakson, maka ia akan merasakan sensasi seperti tertusuk di bagian telinganya.
Apakah autis bisa disembuhkan? Sembuh dalam terminologi autisme, berarti anak bisa memiliki kemapuan berinteraksi, dan berkomunikasi dengan orang-orang di sekelilingnya. Dan ini berarti ‘kesembuhan’ anak autisme tergantung seberapa besar gangguan yang ia derita. Jika anak autis sudah ‘sembuh’, gejala autismenya mungkin timbul kembali saat anak mengalami tekanan. Jika sedang tidak tertekan, ia pun akan menunjukkan perilaku seperti anak normal lainnya.
Saat ini, upaya penyembuhan autisme difokuskan untuk memperbaiki sel-sel otak anak penyandang autis, melalui obat-obatan, diet makanan, dan pelbagai terapi. Salah satu terapi autisme yang cukup populer yakni terapi oksigen, yakni anak dimasukkan ke dalam tabung berisi oksigen, yang didorong masuk ke dalam sel otaknya.
Untuk mencegah autisme, hindari anak dari keracunan logam berat, (merkuri) seperti yang terdapat pada vaksin berpengawet. Jika ingin memberikan vaksin pada bayi, pastikan bahwa vaksin yang diberikan tidak mengandung unsur pengawet. Ibu hamil sebaiknya jangan mengkonsumsi ikan laut, karena sering ditemukan kasus ikan laut yang sudah tercemar oleh limbah logam berat.

