Waspadai Meningitis
Penyakit meningitis atau peradangan pada selaput otak dan tulang belakang, biasanya sering dialami oleh bayi yang berusia 7 hingga 11 bulan. Ini karena tubuh bayi belum bisa memproduksi antibodi yang dapat melawan pelbagai bakteri, virus, jamur, dan parasit yang menyebabkan penyakit ini.
Salah satu bakteri penyebab meningitis yang paling berbahaya adalah bakteri pneumokokus. Sebabnya, di Inggris, 20-30 persen penderita meningitis umumnya bayi dan orang lanjut usia---yang disebabkan bakteri ini menemui ajalnya dalam waktu 48 jam. Sisanya, yang berhasil bertahan dari penyakit ini, mengalami kerusakan otak permanen sehingga menderita cacat seperti kehilangan pendengaran, gangguan penglihatan, lumpuh, bahkan keterbelakangan mental. Akibat penyakit ini memang tidak main-main. Pasalnya, meningitis menyerang sel otak, yang tidak bisa berekontruksi seperti sel-sel lainnya. Sedangkan, penyakit meningitis yang disebabkan oleh virus, tidak membahayakan keselamatan jiwa pengidapnya.
Tubuh yang tidak berada dalam kondisi fit, rentan terhadap serangan penyakit yang menular ini, apalagi jika belum pernah diinjeksi dengan vaksin Neisseria meningitidis menginokokus (untuk orang dewasa), dan vaksin Haemophilus influanze serta vaksin Konjugat pneumokokus untuk bayi. Selain vaksin, bayi juga harus diberi asupan air susu ibu (ASI), karena kandungannya yang sangat bermanfaat untuk imunitas bayi. Selain menjaga kebugaran dan menginjeksikan vaksin ke dalam tubuh, rumah dan lingkungan sekitar juga harus dijaga kebersihannya.
Gejala yang ditimbulkan penyakit meningitis seringkali dianggap sebagai penyakit biasa. Orang dewasa yang terserang meningitis, biasanya akan mengeluh menderita pusing di bagian kepala, demam, sering merasa lesu, tidak bergairah, dan nafsu makan menurun. Ini hampir sama dengan bayi yang seringkali kehilangan selera makan dan minum, menderita demam tinggi, kejang-kejang, kehilangan kesadaran, muntah-muntah, susah buang air besar, dan diare.
Jika Anda menemukan kombinasi dari gejala-gejala ini pada pasangan atau anak Anda, jangan nafikan dan segera bawa penderita untuk menemui dokter ahli. Karena sifat menular dari penyakit ini, maka penderita meningitis harus diisolasikan. Sebab itu, kebiasaan menggunakan peralatan makan dan minum secara bersama-sama, bisa menjadi perantara penyebaran penyakit ini.
Setali tiga uang dengan meningitis, penyakit meningoensefalitis selain menyerang selaput otak juga menyerang ke bagian substansi otak: jaringan otak. Akibatnya, penderita bisa mengalami amnesia, seperti yang dialami Titiana Adinda, seorang aktivis perempuan yang juga survivor penyakit meningitis/meningoensefalitis. “Bagian otak yang terserang penyakit ini menyebabkan aku hilang ingatan, sehingga aku tidak bisa mengingat kejadian apa saja yang aku alami selama tiga tahun terakhir,” akunya.

