Menohok Ketergantungan Merokok
Coba Anda tanyakan kepada pencandu perokok, apakah mereka memiliki keinginan untuk berhenti merokok? Beberapa penelitian menyatakan bahwa 70 hingga 80 persen perokok memiliki keinginan bahkan sudah mencoba untuk berhenti merokok, tapi tidak kunjung berhasil. Sebab, rokok mengandung zat nikotin yang membuat penggunanya ketagihan, meski tidak separah pengguna narkoba.
Selain itu---tidak seperti narkoba---rokok bebas diperjualbelikan dengan harga yang tidak memberatkan. Perokok bebas menghisap rokok di mana saja dan kapan saja ia mau. Iklan produk rokok yang berseliweran di media massa, juga jor-joran memberi pesan bahwa gaya hidup perokok keren, up to date, sesuai dengan perkembangan jaman. Bagi kaum pria, ada anggapan bahwa rokok memperjelas citra maskulinitas mereka. Sedangkan bagi kaum wanita, rokok membuat mereka seakan-akan memiliki nilai ‘plus’ dibanding perempuan lain yang tidak merokok.
Perokok juga tidak terlampau pusing saat ia sedang ‘kecanduan’, ini karena gejala (kecanduan) seperti mulut yang terasa asam, kepala pusing, masih bisa ditahan. Bandingkan dengan pecandu narkoba, yang bakal merasakan kesakitan luar biasa saat ‘kebutuhan’ tubuhnya akan zat psikotropika tidak terpenuhi. Akibatnya, banyak perokok yang menafikan kondisi tubuhnya yang sudah memasuki tahap kecanduan.
Padahal, kebiasaan merokok dapat memicu pelbagai penyakit kanker, jantung, bronkitis, impoten, ganguan kehamilan pada janin termasuk keguguran, dan lain-lain. Bagi perokok pasif, yang sekadar menghirup asap rokok, dapat menderita kanker paru-paru sakit jantung, dan mengalami gangguan pada hidung, mata, dan tenggookan. Anak-anak yang tinggal satu rumah dengan perokok, rentan terhadap serangan penyakit asma. Dan, data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2008 menunjukkan, sebanyak 124 juta perokok di kawasan Asia Tenggara menemui ajalnya, dan sekitar 46% tinggal di Indonesia.
Lantas, bagaimana menghilangkan kebiasaan merokok yang sudah terlanjur mendarah daging? Perokok harus memiliki motivasi yang kuat untuk berhenti merokok, antara lain alasan keagamaan dan demi kesehatan pribadi dan anggota keluarga lainnya. 24 jam kemudian---setelah berhenti merokok---kandungan karbon monoksida di dalam tubuh akan berkurang, kinerja paru-paru akan membaik, dan daya tahan tubuh akan meningkat. Seiring dengan itu, indera perasa dan penciuman makin tajam, dan bau nafas menjadi lebih harum. Sebulan setelah berhenti merokok, tekanan darah akan kembali normal, fertilitas meningkat, dan tubuh terhindar dari risiko penyakit. Ini semua bisa menjadi motivasi yang cukup untuk berhenti merokok, bukan?
Selain motivasi yang kuat, terapi farmakologi yang dicetuskan produsen obat PT Pfizer Indonesia bersama Yayasan Jantung Indonesia, dan Lembaga Menanggulangi Masalah Merokok (LM3), juga bisa diterapkan. Melalui terapi ini, obat Varenidine akan digelontorkan ke tubuh perokok, melalui beberapa tahapan. Untuk tahap awal, perokok diberikan dosis awal Varenicline sebanyak 0,5 mg selama beberapa hari, setelah itu dilanjutkan dengan pemberian 1 mg Varenicline hingga dosis tetap: dua kali per hari. Obat ini berkonsentrasi untuk mengurangi gejala kecanduan, sehingga perokok dengan mudah dapat menghentikan ketergantungannya.


