1001 Satu Alasan Mengerok Tubuh
Masih ingat tidak, saat Anda terkena hujan kemudian merasa kembung di bagian perut, Ibu Anda akan membalur punggung Anda dengan balsam, lalu menggosok-gosokan uang berbentuk lempengan logam di sekujur tubuh Anda? Ya, Anda mungkin menyebut ‘ritual’ itu sebagai kerokan, yakni proses menggunakan mata uang logam untuk memberi tekanan pada kulit yang sudah dibaluri balsam, hingga kulit memerah bahkan membiru.
Metode pengobatan tradisional Jawa dengan kerokan ini, sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu, dan dipercaya dapat memberi kesembuhan. Selain mata uang logam, benda tumpul lain yang dapat digunakan untuk mengerok adalah tulang keramik, batu giok, potongan jahe, potongan bawang, dan lain-lain. Sedangkan, fungsi balsam selain menghangatkan, juga berguna untuk memperlicin proses kerokan, agar tubuh terlindungi dari risiko lecet di bagian kulit.
Pengobatan dengan metode kerokan ini belakangan tak hanya dikenal di Tanah Jawa, tetapi sudah menyebar ke daerah-daerah lain di Indonesia, bahkan sampai ke luar negeri. Di Vietnam, pengobatan ini disebut Cao Gio, di Kamboja disebut Goh Kyol atau menggosok angin. Di China, disebut Gua Sha yang jika diterjemahkan berarti menggosok racun atau dikenal juga sebagai terapi batu Jade, lantaran menggunakan jenis batu itu sebagai mediumnya. Sedangkan di negara Barat, kerokan di (Gua=menggosok/scraping, Sha=racun/toksin), namun kebanyakan pengobatan ini dikenal sebagai coin rubbing atau menggosok logam.
Sejatinya, rasa tidak nyaman di bagian tubuh yang ditandai dengan perut kembung, hidung berair, pegal linu, nyeri kepala, dan sebagainya yang oleh awam disebut sebagai masuk angin adalah kondisi tubuh di mana terjadi penurunan suhu tubuh yang mengakibatkan pembuluh darah di kulit mengalami penyempitan (konstriksi). Ini terjadi agar bagian tubuh lainnya tidak ikut kedinginan. Tapi, konstriksi atau penyempitan dapat mengakibatkan oksigenasi pada permukaan tubuh (terutana bagian belakang) berkurang, dan menyebabkan sekujur badan terasa sakit, yang kemudian diikuti dengan gejala bersin pertanda terjadi penurunan temperatur tubuh,
Metode kerokan dengan menggosok-gosokan benda tumpul di bagian tubuh, akan menghasilkan energi panas sesuai dengan hukum Einstein bahwa energi atau panas dihasilkan dari gesekan dua benda yang meningkatkan suhu tubuh. Akibatnya, pembuluh darah melebar, sehingga melancarkan peredaran darah dan proses oksigenasi menjadi lebih baik. Ini yang mengurangi rasa sakit di dalam tubuh. Jika dilakukan dengan benar, kerokan tidak akan menyebabkan rasa sakit bagi obyek penderita.
Warna merah yang timbul saat tubuh dikerok, dapat dipakai untuk mengukur berat atau ringannya sakit yang diderita. Artinya, makin berat sakit yang diderita, maka warna akibat kerokan akan kian memerah atau bahkan membiru.
Jadi, kerokan merupakan upaya mengusir masuk angin dengan cara meningkatkan panas akibat sirkulasi darah yang meningkat sehingga memberikan warna kemerahan, bukan mengeluarkan angin lewat pori-pori kulit. Sebab, bagi masyarakat awam, kerokan sering dipahami sebagai cara untuk "mengeluarkan angin" dari tubuh lewat pori-pori kulit. Padahal, angin atau udara tidak pernah masuk atau keluar lewat pori-pori kulit. Angin hanya bisa masuk atau keluar lewat organ pernapasan dan pencernaan.
Ingatlah, jangan sekali-kali membasuh diri usai tubuh Anda dikerok. Sebab, setelah kerokan, terdapat peningkatan panas yang menyebabkan pori-pori kulit dalam kondisi terbuka. Lebih baik, sekalah kulit dengan lap basah (yang dicelupkan pada air hangat lalu diperas). Jika langsung bersentuhan dengan air dingin, sel-sel tubuh yang masih panas akibat kerokan akan syok dan tidak stabil.

