Redakan Radang Sendi Dengan Senam Rematik
Konon, kegemaran mandi di malam hari bagi kaum muda, memicu timbulnya penyakit rematik di masa tua. Begitu pula dengan kebiasaan menyantap kangkung dan bayam. Padahal, penyakit rematik atau peradangan pada sendi ini, disebabkan oleh pelbagai faktor: kekurangan hormon estrogen, faktor genetik, osteoporosis, hingga tingginya kadar asam urat dalam darah.
Mandi di malam hari atau mandi dengan air dingin, tidak menyebabkan peradangan pada sendi. Tapi, bagi yang sudah menderita rematik, mandi air dingin bisa menyebabkan otot kaku dan menekan persendian hingga terasa menyakitkan. Juga, tidak ada hasil penelitian yang menyatakan ada hubungan antara mengkonsumsi sayur atau bayam dengan penyakit rematik.
Maraknya mitos seputar penyakit rematik, tampaknya seiring dengan sikap sebagian besar masyarakat Indonesia yang menganggap enteng penyakit ini. Ya, ada asumsi bahwa gejala rematik timbul akibat terlampau sering bekerja keras, sehingga cukup diatasi dengan mengkonsumsi obat yang dijual bebas.
Padahal, pemakaian obat rematik, hanya meredakan gejala tapi bukan menyembuhkan. Penderita rematik, selain wajib mengistirahatkan persendiannya, jika diperlukan harus mengikuti program proteksi sendi, fisioterapi, pembedahan dan psikoterapi. Tidak disarankan mengkonsumsi obat rematik yang dijual bebas secara terus-menerus, karena dapat menimbulkan komplikasi pada lambung, gangguan ginjal, hati, dan jantung.
Kini ada alternatif baru untuk meredakan rasa sakit akibat peradangan sendi ini, yakni senam rematik, Senam ini diciptakan oleh Pfizer, produsen obat asal Amerika Serikat, bersama dua pakar rehabilitasi medik dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr Angela BM Tulaar SpRM, dan Dr Siti Annisa Nuhonni.
Menurut Annisa, senam rematik hanyalah salah satu upaya untuk mencegah dan meringankan gejala-gejala rematik, serta berfungsi sebagai terapi tambahan untuk pasien rematik, bukan pengganti obat atau tindakan terapi yang dilakukan dokter. “Pada penderita rematik, latihan senam ini harus di bawah pengawasan dokter, terapis, dan instruktur,” jelas Annisa.
Prinsip dari senam rematik yakni untuk meningkatkan kemampuan gerak, fungsi, kekuatan dan daya tahan otot, kapasitas aerobik, keseimbangan biomekanik sendi dan rasa posisi sendi. Dengan berkonsentrasi pada gerakan sendi sembari meregangkan dan menguatkan otot, karena otot membantu sendi untuk menopang tubuh.
Senam ini bisa dilakukan 20 hingga 30 menit, tiga hingga lima dalam seminggu, dengan empat tahapan: pemanasan, latihan inti aerobik I, latihan initi aerobik II, dan pendinginan. Senam ini sebaiknya dihentikan apabila penderita merasakan pelbagai gejala radang seperti nyeri, bengkak, dan gerakan terganggu.

