Menepis Halitosis
Bayangkan, saat Anda tengah asyik bercengkerama dengan sahabat atau sedang terlibat dalam percakapan penting bersama kolega, mendadak keluar aroma yang tidak sedap dari mulut sahabat atau kolega Anda tersebut. Maka, Anda pun sukses mempermalukan diri Anda di hadapan sahabat maupun kolega tersebut. Selain itu, bukan tak mungkin mereka pun enggan berdekatan dengan Anda. Ya, efek halitosis memang tidak main-main. Bahkan, ada orang yang demikian takut dengan bau mulut halitophobia sehingga harus berkonsultasi ke psikolog.
Apa yang Anda alami lazim disebut sebagai halitosis, yakni kondisi bau pada mulut yang tercium saat mengeluarkan nafas atau berbicara. Biasanya, jenis makanan yang mengeluarkan aroma khas seperti ikan, produk susu seperti keju, bawang bombai, bawang merah, bawang putih, keju, durian, dan petai, dituding sebagai penyebab halitosis. Sebab, pelbagai jenis makanan ini mengandung senyawa sulfur yang beraroma mirip dengan telur busuk. Usai makanan dicerna, senyawa sulfur ini diserap ke dalam pembuluh darah dan dihantarkan ke paru-paru, sehingga baunya tercium pada saat bernafas.
Kondisi mulut yang kurang bersih juga dapat menimbulkan halitosis, lantaran terdapat sekitar 400 bakteri dengan berbagai variasi yang memproduksi racun dengan cara menguraikan sisa-sisa makanan dan sel-sel mati dalam mulut. Dampak dari proses penguraian makanan tadi adalah senyawa sulfur dan amoniak, yang berbau sangat menyengat.
Namun, jika halitosis masih bergentayangan meski kebersihan mulut sudah dijaga dan makanan pemicu bau sudah dihindari, besar kemungkinan penderita halitosis mengidap penyakit lain seperti gangguan metabolisme, sinusitis, infeksi amadel, kanker, diabetes, ginjal, dan lain-lain. Seorang yang mengidap gangguan hati kronis, maka akan mengeluarkan bau mulut yang menyerupaia bau asam atau logam. Pada penderita gangguan ginjal, bau mulutnya mirip dengan bau amoniak. Ini karena senyawa yang dihasilkan dari proses kimiawi dalam tubuh yang masuk ke dalam sistem pernafasan dan menimbulkan halitosis.
Pada orang yang mengalami gangguan metabolisme, kuman-kuman terhadap sisa makanan di dalam usus besar tidak bisa dikeluarkan, sehingga menjadi racun yang kemudian akan kembali diserap tubuh, Akibatnya, tidak hanya mulut menjadi bau, gas yang dikeluarkan melalui bokong pun juga menimbulkan aroma yang tak kalah busuknya.
Untuk menghilangkan halitosis, umumnya penderita menggunakan obat kumur atau obat penyegar mulut. Untuk sementara, cairan ini memang ampuh meredam bau tak sedap dari mulut. Tapi begitu efeknya hilang, bau mulut pun kembali merajalela. Apalagi, ternyata kandungan alkohol pada obat peredam halitosisi ini, berpotensi mengurangi produksi ludah, yang berfungsi menjaga keseimbangan kadar asam dalam mulut. Dan bisa mematikan bakteri baik di dalam mulut, sehingga memicu timbulnya bakteri jahat yang membuat mulut semakin berbau.
Jadi, cara yang aman untuk menepis halitosis adalah dengan
menjaga kebersihan mulut, menghindari makanan penyebab bau, memperbanyak asupan
sayur-mayur dan bebuahan untuk memperlancar metabolisme tubuh, dan rajin minum
air putih. Ya, air putih tak hanya baik untuk tubuh, tapi juga membuat mulut
terus dalam keadaan basah sehingga dapat membersihkan bakeri dan sisa-sisa
makanan.

