Stres Pada Keluarga, Picu Obesitas Anak
Anak-anak berusia 5-6 tahun dari keluarga yang tinggi tingkat stresnya, dua kali lipat memiliki risiko obesitas dibandingkan dengan teman-teman sebaya mereka yang dibesarkan keluarga ‘normal’.
“Beberapa keluarga ada yang dapat menanggulangi stres atau pemicu stres, tapi ada juga yang tidak,” tutur Felix-Sebastian Koch, kandidat doktor dari Universitas linkping, Swedia, yang meneliti kecenderungan obesitas pada anak dari keluarga yang tinggi tingkat stresnya.
“Apabila keluarga tidak bisa lagi menangulangi stres, maka anak-anak dari keluarga itu, berisiko tinggi mengalami obesitas,” Koch mengingatkan.
Koch bersama rekan-rekan sejawatnya meneliti kadar stress pada 7443 keluarga di Swedia, semenjak anak-anak mereka lahir hingga mencapai usia 5-6 tahu. Dan, sekitar 50% anak-anak dari responden berjenis kelamin laki-laki.
Belakangan, hasil penelitian menunjukkan bahwa 4,2 persen dari anak-anak tersebut mengidap obesitas sementara orang tua mereka dilaporkan sering tertekan lantaran mengalami kecelakaan, sakit-penyakit, kematian, perceraian, PHK, kekerasan, kurangnya dukungan sosial, dan kekhawatiran yang terus-menerus mengenai kesehatan dan perkembangan anak.
Menurut Koch, keluarga yang tingkat sresnya tinggi, umumnya mengalami lebih dari dua peristiwa yang tadi disebutkan. “Stres kemungkinan memiliki kaitan dengan faktor lain yang menyebabkan masalah obesitas pada anak semakin parah,” ujar Koch. “Tapi itu bukan satu-satunya pemicu obesitas,” imbuhnya.
Meski demikian, lantaran penelitian ini menemukan ada kaitan antara stres pada keluarga dengan obesitas anak, Koch menyarankan agar keluarga yang sering mengidap stres berkonsultasi dengan para ahli.

