Menelusuri
Turki
Dalam kisah fiksi The Chronicles of Narnia: The Lion, The Wicth, and The Wardrobe, diceritakan tokoh utama, Edmun Pevensie, jatuh ke dalam rayuan penyihir jahat sesudah diiming-imingi gula-gula Turkish Delight yang lezat. Rupanya kelezatan Turkish Delight ini demikian tersohor, hingga penulisnya, CS Lewis, pun memasukkan nama penganan manis asal Turki ini ke dalam kisahnya.
Tapi, Turkish Delight bukan satu-satunya hal yang menarik dari negara yang unik ini. Istanbul, salah satu kota metropolitan di Turki, memiliki obyek wisata yang tak kalah menariknya. Betapa tidak, kota ini adalah tempat bermuaranya budaya timur dan barat secara geografis, Turki terletak di antara dua benua: Asia dan Eropa yang menghasilkan budaya yang sangat beragam. Bangunan-bangunan dan benda seninya misalnya, merupakan percampuran kebudayaan asli Turki, Bizantium, dan Romawi.
Tak hanya perpaduan budaya barat dan timur yang menjadi daya tarik kota ini, perpaduan peradaban kuno dan moderen pun juga menimbulkan sensasi tersendiri. Ya, Istanbul ibarat portal mesin waktu raksasa yang akan mengantarkan Anda kembali ke masa lalu, dengan berbagai bangunan peninggalan masa kerajaan Bizantium, Romawi dan Ottoman yang keotentikannya tetap terjaga.
Istanbul memiliki pelabuhan alam yang terbaik di dunia, Golden Horn. Yakni muara sungai yang bentuknya seperti tanduk. Di era Bizantium, Golden Horn merupalan pelabuhan komersial terkenal yang paling sibuk. Konon, saat kerajaan Bizantium ditaklukkan oleh Fatih Sulsam Mehmet II di tahun 1453, penduduk yang melarikan diri membuang semua harta emas (golden) mereka ke sungai. Oleh sebagian orang, kisah ini dipercaya menjadi latar belakang di balik pemberian nama Golden Horn. Tapi, ada juga yang berpendapat bahwa nama itu diberikan karena cahaya berwarna keemasan muncul dari sungai saat matahari terbenam.
Selain Golden Horn, Selat Bosphorus juga menjadi magnet bagi wisatawan yang melancong ke Istanbul. Sebab, selama Anda menyusuri selat yang menjadi penghubung daratan Asia dan daratan Eropa ini, Anda akan disuguhkan oleh bangunan-bangunan tua nan rupawan: Dolmahbahce Palace, Rumeli Fortress, dan Beylerbeyi Palace.
Di antara Bosphorus dan Golden Horn, terbentang Semenanjung Sultanahmet, pusat dari kota tua. Di semenanjung ini, terdapat lima pilar sejarah Istanbul yang utama yakni Topkapi Palace, istana terbesar di Istanbul, tempat bermukim para sultan sekaligus pusat pemerintahan di Turki. Istana Topkapi memiliki taman-taman hijau, penuh dengan pepohonan rindang. Kini, tepatnya sejak tahun 1924, Topkapi Palace berubah fungsi menjadi museum yang menyimpan banyak hasil karya seni dan peninggalan bersejarah yang tak ternilai.
Pilar kedua adalah Blue Mosque, yakni masjid yang dihiasi dengan keramik biru Iznik, dan pintu gerbangnya dihiasi dengan seni kriya Turki kuno dari abad ke-11 dan 12. Masjid ini dirancang oleh arsitek lokal, Mehmed Aga, di masa kekuasaan Sultan Ahmet I (1603-1617), dengan hiasan beberapa air mancur di beberaba sisinya. Sampai sekarang, Blue Mosque masih berfungsi sebagai tempat ibadah umat muslim, dan air mancur digunakan mereka untuk berwudhu.
Sekitar 100 meter dari Blue Mosque, Anda dapat menyambangi Hagya Sofia atau Gereja Sofia, salah satu peninggalan jaman keemasan Bizantium. Pada pemerintahan Sultan Mehmed II, gereja ini diubah menjadi masjid, dan belakangan menjadi museum di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk, Bapak Turki Moderen. Menurutnya, Hagia Sophia merupakan warisan dunia yang harus dilindungi dan bisa dilihat secara langsung oleh publik dari berbagai latar belakang.
Pilar keempat yakni Hippodrome, bekas kediaman resmi kesultanan Ottoman selama 800 tahun. Sedangkan pilar terakhir adalah Basilica Cistern atau Yerebatan Sarayi, istana yang dibangun di bawah tanah.
Di dekat mereka, sebuah pasar besar yang sangat legendaris, Kapali Carsi atau
Grand Bazaar. Pasar terbesar di Istanbul yang dibangun oleh Sultan Mehmet II
pada tahun 1461, untuk memfasilitasi para pedagang. Pasar ini menawarkan berbagai macam
produk tekstil, perhiasan, serta aneka souvenir.

