Begundal gentayangan di kota Memphis
Masalah iri hati ternyata tidak hanya menjangkiti penduduk dari negara miskin atau negara berkembang seperti Indonesia yang dipicu oleh kesenjangan sosial yang terlalu lebar. Di negara maju, yang notabene hampir semua warganya sudah hidup layak, ternyata kasus pencurian akibat iri hati masih marak terjadi.
Kota Memphis, di Amerika Serikat (AS), adalah kota dengan tingkat pencurian tertinggi di antara kota-kota di seluruh AS. Untuk setiap 100.000 populasi, terdapat 8.358 kasus pencurian. Jumlah ini lebih tinggi 19% dari kota Charlotte, peringkat kedua kota yang paling berdosa karena iri hati. Peringkat ketiga yakni Kota San Antonio, dengan 6.771 kasus, Kota Seatle (6.084), dan Kota Providence (4.893).
Pada tahun 2007, Daniel John Zizzo, ekonom dari University of East Anglia, mencoba membangun model ekonomi untuk perilaku iri hati, “Jika seseorang diberikan pilihan untuk menggunakan uang mereka, agar orang lain tidak perlu mengeluarkan uang,” katanya, “tanpa mendapatkan keuntungan sama sekali, tidak akan ada cara yang membuat mereka mau melakukan itu,” papar Zizzo.
Apalagi, menurut Zizzo, teori tersebut sudah dibuktikan salah oleh beberapa peneliti selama beberapa dekade. Sekaligus membuktikan bahwa seseorang yang merasa iri akan mengurangi pendapatan orang lain, dan menggunakan kelebihannya untuk diri mereka sendiri. Artinya, manusia memiliki kecenderungan alamiah saat merasa iri. Yakni melampiaskannya dengan mengambil sesuatu dari orang lain, yang menimbulkan rasa iri tersebut.
Jika dianalogikan, ini sama dengan seorang pencuri yang merasa puas secara emosional, karena berhasil mencuri mobil Cadilac Escalade senilai 500 juta rupiah, walau pada akhirnya tertangkan basah. Sebab, paling tidak mereka telah berhasil memindahkan mobil mewah tersebut dari seorang begundal kaya yang tidak layak mendapatkannya, menurut versi mereka.
Sekolah-sekolah di Memphis juga tak luput dari ulah para pencuri yang bergentayangan di kota tersebut. Pada awal Juni kemarin, empat laptop senilai lebih dari 60 juta rupiah yang berada di auditorium, kantor pusat Memphis City Schools, lenyap digondol maling. Menurut data kepolisian, tidak ditemukan tanda-tanda kerusakan pada pintu masuk. Sementara laptop tersebut sendiri berisi informasi penting mengenai pendaftaran siswa, rute bis sekolah, dan analisa statistik analisa mengenai proyek pembangunan sekolah.
Sedangkan di akhir Juni, kepolisian Memphis menemukan barang-barang curian senilai lebih dari 100.000 dolar AS atau sekitar satu miliar rupiah, dari penggeberakan di permukiman Whitehaven Lane di Whitehaven. Barang-barang itu kebanyakan terdiri dari bermacam peralatan bahan bangunan seperti kayu, pintu dan jendela yang masih baru, pemangkas rumput, alat pendingin udara, dan kabel tembaga. Beberapa barang curian tersebut bahkan masih memiliki label.
Apakah Anda punya nyali melencer ke kota ini?

