Memphis, Menderita Akibat Makan Berlebihan
Obesitas atau penyakit kelebihan berat badan, dialami oleh 1/3 rakyat Amerika Serikat (AS), dari berbeda latar belakang: kaum elit, kaum menengah, rakyat jelata, dari pelbagai etnis. Penyebabnya, menurut para peneliti, salah satu pola makan masyarakat AS yang sangat berlebihan tidak sehat. Meski demikian, pola makan yang berlebihan alias rakus hanyalah salah satu penyebab dari sekian banyak pemicu obesitas. Dilaporkan, 112 jiwa melayang akibat penyakit obesitas. Dan penyakit ini, ditenggarai memicu penyakit kronis seperti diabaetes, kanker, dan gangguan jantung.
Kota Memphis, menurut situs Forbes, adalah kota yang paling berdosa berdasarkan kategori rakus. Untuk menentukan kota mana yang paling rakus penduduknya, Forbes merujuk pada data body mass index (BMI) warga AS di tahun 2006, yang dilansir oleh Centers for Disease Control and Prevention's Behavioral Risk Factor Surveillance System, AS. Dengan metode survey melalui telepon, yang menanyakan ihwal pola hidup sehat termasuk obesitas, diabetes, dan latihan kesegaran jasmani warga AS yang tersebar di 145 wilayah.
Data ini menunjukkan bahwa sebanyak 65% penduduk Kota Memphis, mengidap obesitas., atau nilai BMI-nya lebih dari 30. Meski demikian, warga Kota Memphis tak perlu merasa rendah diri dengan hasil ini, sebab, lebih dari 32% rakyat AS ternyata juga mengidap obesitas!
Di Memphis, yang merupakan salah satu kota terpencil, sebanyak 24% penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi ini sama dengan Kota Detroit, yang menduduki peringkat lima dari daftar kota yang rakus penduduknya, dan kota San Antonio yang masuk dalam urutan ketiga. Di Detroit, sebanyak 33% penduduknya hidup tidak sejahtera, juga dengan 18% warga San Antonio. Apakah ini berarti ada korelasi antara kerakusan dan kemiskinan?
Mungkin Anda berpikir, bahwa secara logika sulit membayangkan orang miskin memiliki badan yang tambun. Di AS, orang miskin mengidap obesitas karena uang mereka hanya cukup untuk mendapatkan makanan cepat saji---yang notabene memperbanyak timbunan lemak di tubuh mereka bukan makanan sehat dan bergizi. Juga, orang miskin tidak memiliki akses untuk menjaga tubuh mereka tetap fit dengan secara rutin mengunjugi fitness center, atau kegiatan lainnya. Praktis, hiburan mereka hanyalah bersantai di sofa, menyaksikan tayangan televisi, sembari menyantap sembarang makanan. Inilah yang membuat mereka bermasalah dengan obesitas.Menurut Marian Levy, direktur Program Kesehatan Masyarakat dari Universitas Memphis, selain porsi makanan tidak sehat yang berlebihan, dan nyaris tidak pernah melakukan olahraga, maka pengaruh budaya setempat juga memicu seseorang mengidap obesitas. “Di Memphis, penduduk menunjukkan kepeduliannya melalui makanan,” katanya. “Paradigma ini harus diubah, sebab kalau kita memang peduli dengan teman atau kerabat kita, ini berarti kita ingin mereka tetap sehat,” papar Levy yang menambahkan bahwa makanan yang sering ‘beredar’ di Memphis adalah ikan dan ayam goreng.
Di Memphis, dan juga di semua kota yang rakus lainnya, mengatasi masalah obesitas sama dengan mencona menyumbat ratusan lubang di sebuah kapal yang nyaris tenggelam. Ya, meski pelbagai kampanye dan strategi kesehatan telah dicanangkan di seluruh bagian Kota Memphis, seperti memasukkan menu makanan sehat ke dalam kantin sekolah, tetap belum ada kemajuan yang signifikan, “Harus ada perubahan yang berkelanjutan di lingkungan masyarakat, keluarga, komunitas, dan sekolah!” seru Levy.

