Sindrom Baby Blues Picu Kematian Bayi
Jangan sepelekan baby blues syndrome, sebab gangguan psikis yang satu ini jika tidak segera diatasi dapat mengakibatkan nyawa melayang. Ya, ini yang dialami bocah malang asal Inggris, Jack, yang tewas di usia 17 bulan akibat dianiaya ibu kandungnya sendiri, Joanne Mallinder, 37 tahun, yang ditenggarai mengidap sindrom baby blues.
Sindrom ini dialami hampir 50% perempuan yang baru melahirkan, dengan gejala menangis tanpa sebab, berkeringat dingin, sesak napas, sulit tidur, gelisah, tegang, bingung, merasa sendiri, sedih, tampak murung, sakit, marah, merasa bersalah dan tak berharga, memiliki pikiran negatif pada suami, dan kehilangan nafsu makan. Akibat naiknya kadar hormon kortisol (hormone pemicu stress) hingga mendekati kadar orang yang sedang mengalami depresi.
Syahdan, saat masih mengandung Jack, Joanne memutuskan menyerahkan bayinya untuk diadopsi oleh departemen sosial. Namun, beberapa bulan usai melahirkan, Joanne berubah pikiran dan mereka pun dipersatukan lagi. Di sinilah malapetaka mulai terjadi. Jack yang kala itu masih berusia tiga bulan, kerap digoncang dengan keras oleh Joanne. Akibatnya, otak Jack mengalami kerusakan hebat, sehingga tak mungkin diperbaiki.
Tigabelas kemudian, Jack pun tewas di rumahsakit akibat kerusakan otak dan cidera di sekujur tubuh mungilnya. ya, hasil otopsi jasad Jack menunjukkan adanya keretakan tulang di bagian lengan dan kakinya, yang diperkirakan---lagi-lagi---akibat goncangan yang sangat keras.
Walhasil, Joanne pun dihadapkan ke meja hijau. Oleh pengadilan, Joanne dinyatakan bersalah dengan dakwaan pembunuhan yang tak direncanakan, terkait dengan riwayatnya yang pernah keguguran hingga tigabelas kali dan satu kali mengalami stillbirth atau melahirkan bayi yang sudah mati sejak kandungan. Jauh sebelum peristiwa Jack, Joanne pernah mengidap sindrom baby blues usai melahirkan seorang anak perempuan dari pernikahan sebelumnya. Selain itu, pengadilan juga menyatakan bahwa Joanne mengidap bulimia dan krisis kepercayaan diri.
Tak pelak, kasus ini mencoreng citra departemen sosial yang dianggap gagal melindungi anak-anak yang dipercayakan kepada mereka. Padahal, sejumlah pekerja sosial, aparat kepolisian, dan petugas medis termasuk pasangan Joanne, Gareth Cox mengaku bawa mereka telah menyaksikan setidaknya sebagnyak 60 kali, bagaimana Jack dianiaya oleh ibunya.
Dalam sidang pengadilan di Basildon, Crown Court, Inggris, Gareth menyatakan bagaimana Joanne mungkin tidak peduli dengan ikatan antara ibu dan anak, untuk beberapa minggu pertama dalam hidupnya setelah ia berpisah dengan Jack. Tapi kemudian Gareth menambahkan bahwa Joanne belakangan dapat menanggulangi perasaan nelangsanya, dan bersedia melakukan pijat bayi di malam hari guna memulihkan ikatan di antara dia dan Jack.
Tak dinyata, ‘pijatan’ itulah yang mengawali derita Jack. Puncaknya pada 13 Februari 2006, saat Joanne menghubungi Gareth untuk melaporkan bahwa Jack berhenti bernapas, “Saya langsung pergi ke sana segera usai Joanne menghubungi saya,” kenang Jack. “Ketika saya tiba di sana Jack tidak bernapas. Ada aliran darah segar yang mengucur dari hidungnya, dia terlihat sangat pucat, bibirrnya membiru. Pokoknya keadaannya sangat mengenaskan,” tutur Gareth. Meski saat itu nyawa Jack berhasil diselematkan oleh paramedis, sayangnya tigabelas bulan kemudian Jack meregang nyawa.
Hakim Philip Clegg akhirnya memutuskan menangguhkan penahanan Joanne, dan memerintahkan wanita itu untuk berkonsultasi ke psikiater.

