Bijak Mengelola Utang
Menurut penulis buku laris Rich Dad, Poor Dad, Robert T Kiyosaki, berutang tidak selamanya sesuatu yang nista. Sebab, jika utang dikelola dengan bijak, maka utang pun dapat menjelma menjadi aset yang bermanfaat.
Supaya dapat mengelola utang dengan bijak, Anda harus dapat membedakan ‘utang baik’dan ‘utang jelek’. Anda dikatakan memiliki utang jelek, apabila Anda memiliki utang jangka pendek dengan bunga tinggi. Sebaliknya, utang yang bagus berarti berjangka panjang dengan bunga rendah.
Jika Anda berutang, maka gunakanlah utang itu untuk membeli aset, misal untuk membeli rumah toko (ruko), yang kemudian bisa Anda sewakan lagi ke pihak lain. Dengan uang hasil penyewaan ini, Anda bisa menutupi cicilan sekaligus bunga, dan menggunakan sisanya sebagai sumber pemasukan. Untuk itu, jangan sekali-kali berutang jika Anda tidak memiliki konsep yang jelas untuk apa utang tersebut Anda pergunakan. Dan, jangan pernah berutang untuk sesuatu yang tidak bisa dijadikan aset, atau sekadar meng-upgrade gaya hidup Anda.
Mungkin Anda mengira, berutang selama tiga tahun untuk memiliki sebuah mobil mewah bukan utang yang jelek, sebab Anda mengira dapat menghemat biaya transportasi. Anda salah, nilai ekonomis mobil akan berkurang, artinya Anda tidak hanya mengeluarkan uang untuk membayar cicilan utang, tapi juga sejumlah biaya untuk merawat kelangsungan mobil tersebut.
Sebelum Anda berutang, penting untuk melakukan perencanaan manajemen utang, dengan menentukan berapa besar kekuatan debt ratio yang ingin Anda pilih, untuk menghitung berapa biaya yang Anda harus sisihkan dari pendapatan Anda yang akan digunakan untuk membayar cicilan utang.
Lebih baik, debt ratio tidak melampaui 30% dari pandapatan Anda. Misal, jika Anda memiliki pendapatan sebesar lima juta rupiah per bulan, maka jangan gunakan lebih dari 1,5 juta rupiah untuk membayar utang, apakah itu utang kartu kredit, KPR, dan lain-lain. Ini penting Anda terapkan agar pos pengeluaran primer seperti tagihan listrik dan PAM, kebutuhan belanja bulanan, kesehatan, pendidikan, tidak terganggu.
Lalu, apakah diperbolehkan berutang untuk keadaan darurat, misal jika seorang anggota keluarga mendadak tertimpa musibah penyakit atau kecelakaan? Jika Anda masih memiliki simpanan, lebih baik gunakan dana simpanan tersebut. Tapi jika tidak, alihkan dana yang Anda gunakan untuk membayar utang, untuk keadaan darurat yang tengah Anda alami. Caranya, hubungi kreditor Anda, dan jelaskan kesulitan yang sedang Anda hadapi. Kemudian, minta keringanan dan perpanjangan waktu pembayaran, atau membayar bunganya terlebih dulu.
Jadi, cara bijak untuk mengelola utang yakni dengan membuat kalkulasi anggaran semua pengeluaran yang disebabkan oleh utang yang akan diambil, dan menghitung besarnya rasio utang terhadap pendapata, yakni maksimal 30%. Kedua, tentukan tujuan dari pengambilan utang tersebut, apakah untuk pemenuhan kebutuhan (needs) atau sekadar memuaskan keinginan (wants), dan mengklasifikasinnya menjadi utang baik atau utang jelek. Terakhir, menemukan solusi atau cara guna meneruskan pembayaran cicilan pinjaman---termasuk pelunasannya---jika muncul kejadian tak terduga.
ARTIKEL LAINNYA
- How To make Pensioun Plan
- Penerbangan ekstra dari Garuda Indonesia
Kabar baik bagi Anda yang gemar berpelesir. Untuk mengantisipasi lonjakan penumpang
- Robinho I'll be home for Christmas
Syair lagu I’ll Be Home for Christmas tepat menggambarkan perasaan bintang sepakbola Manchester City, Robinho, yang merayakan natal tahun ini di rumahnya yang baru
- Ketidakabadian Michael jackson
- Jepang berikan bantuan MRT
- Krisis Global dan Secercah Harapan di Tahun 2009

