Let's Talk About Walk
Pernahkah Anda memikirkan bahwa ada pelbagai asumsi mengenai cara buah hati belajar berjalan? Ya, ada yang beranggapan bahwa otot kaki adalah satu-satunya faktor penting selama belajar berjalan. Padahal, berjalan itu melibatkan pelbagai kelompok otot, antara lain: otot punggung, leher, dan lengan. Dengan perkembangan dari otot-otot itu, bayi tidak hanya piawai berjalan, tapi juga lancar untuk duduk dan berdiri.
Untuk itu latih anak untuk berdiri tegak, sehingga ia bisa menggerakkan tubuh ke segala arah, termasuk berputar-putar. Tak ada salahnya Anda mengimingi si kecil dengan mainan favoritnya, sehingga ia termotivasi untuk menggerakan tubuhnya demi meraih benda kesayangannya itu. Pada saat ia merangkak, letakkan mainan tersebut tepat di hadapannya, untuk melatih dia mengangkat kepala dan dadanya.
Dengan demikian, kalau ada pendapat yang mengatakan penting untuk melatih kaki anak dengan menggunakan baby walker supaya cepat berjalan, itu tidak benar. Aktivitas motorik yang terjadi pada saat anak menggunakan baby walker, ternyata hanya melibatkan sebagian serabut motorik otot, yakni otot betis. Padahal, aktivitas berjalan juga membutuhkan sokongan dari otot paha dan otot pinggul.
Secara psikologis, pemakaian baby walker akan membuat anak malas untuk berlajar berjalan mandiri, karena sudah terlanjur merasa enak bisa bergerak ke segala arah tanpa harus menjejakkan kaki. Bahkan, penggunaan baby walker alih-alih menguatkan otot kaki, malahan menimbulkan kelainan pada kaki. Mengapa? Ini karena, posisi duduk anak yang dalam keadaan mengangkang selama menggunakan baby walker, mengakibatkan gangguan pada tulang paha. Akibatnya, cara anak berjalan saat tidak menggunakan baby walker mirip dengan cara jalan bebek, agak mengangkang.
Cara jalan seperti bebek, menimbulkan kelemahan di otot-otot tungkai anak. Ini membuat anak cenderung jatuh saat belajar berjalan, dan jika sudah trauma, akan menghambat kemampuan anak untuk belajar berjalan. Jadi, gunakan saja cara-cara alami untuk melatih si kecil berjalan, itu jauh lebih baik!
Ibu, jika Anda sedang melatih anak untuk belajar berjalan, jangan pakaikan sepatu pada kakinya. Justru, sepatu akan menyulitkan anak menekuk kaki, sehingga ia kesulitan mengembangkan kemampuan untuk menjaga keseimbangan dan koordinasi. Dengan kaki telanjang, anak bisa menggunakan jari kakinya untuk ‘mencengkeram’ lantai.
Gunakan sepatu hanya ketika anak sedang berjalan di luar rumah, untuk menghindari dari kuman dan udara dingin. Untuk itu, pilihlah sepatu dengan sol yang tidak licin, dan tidak menutupi mata kaki. Sepatu yang baik saat dikenakan anak masih menyisakan ruang antara jari kaki terpanjang dengan ujung sepatu si kecil. Ingat, tiap dua bulan sekali, Anda harus menyisihkan waktu untuk menyediakan sepatu bagi si anak. Atau, jika selepas menggunakan sepatu kaki si kecil berwarna kemerahan, saatnya Anda membeli sepatu baru!
Terkadang ada anak yang berjalan dengan cara berjinjit, atau jari kaki menghadap ke luar. Untuk itu, Anda harus mengunjungi dokter anak untuk memeriksa kelainan ini. Tapi jika ternyata tidak ada kelainan, Anda tidak perlu cemas, lambat-laun ia akan berjalan dengan cara yang benar.

