Menyapih Empeng

Ibu, penggunaan empeng atau dot kecil untuk anak batita, awalnya memang cukup membantu. Ya, anak-anak yang masih berusia belia ini kerap rewel dan menangis tanpa henti. Cukup dengan memasukkan empeng ke dalam mulut mungilnya, ajaib, ia pun berhenti berkeluh kesah. Namun, pemakaian empeng bisa menjadi masalah jika anak sudah memasuki fase ketergantungan dengan empengnya.
Simak pengalaman Rany dengan putranya, Ronald, yang masih berusia dua tahun. Saat berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan, Ronald yang sudah lancar berjalan terjatuh dan meraung sejadi-jadinya. Walhasil, Rany segera meraih Ronald dalam genggamannya dan berusaha membujuk anak itu untuk diam. Alih-alih menjadi tenang, tangisan Ronald malah makin menjadi. Rany pun kehabisan akal dan mengeluarkan empeng andalannya, yang memang ampuh meredakan tangisan si anak. Bagi banyak batita, empeng bisa memuaskan keingianan alamiah mereka untuk menghisap sesuatu. Ini memang sesuai dengan kebutuhan alamiah mereka untuk menghisap (ASI).
Efek buruk lainnya dari penggunaan empeng yang terus-menerus yakni timbulnya masalah ortodontis. Tekanan yang tercipta dari mulut si kecil saat menghisap empeng, bisa menonjolkan gigi depan sehingga mengakibatkan gigitan yang tidak merata. Memang, masalah ini akan berhenti dengan sendirinya saat anak mulai beranjak dewasa. Tapi, alangkah baiknya apabila sedari dini, Anda melatih batita untuk menghentikan kebiasaannya.
Untuk menyapih penggunaan empeng dari batita, Anda perlu melakukan di waktu yang tepat. Jangan coba menyapih sang kecil dari empeng, saat ia sedang merasa tertekan, misalnya di saat sakit. Sebabnya, anak-anak menggunakan empeng untuk mengatasi masa transisi maupun situasi sulit. Jadi, besar kemungkinan mereka tidak akan menyerahkan empengnya saat sedang merasa cemas.
Diperlukan kerjasama yang baik dengan seluruh anggota keluarga untuk melatih batita lepas dari ketergantungan empeng. Jangan sampai Anda bersikeras melarang si kecil menggunakan empeng, tapi kakek dan neneknya justru mencecoki si buah hati dengan dot kecil tersebut.
Tidak bijaksana apabila memaksa anak berhenti memakai empeng di saat itu juga. Anda harus mengurangi sedikit demi sedikit waktu pemakaian empeng. Anda juga dapat menyediakan penganan atau camilan kecil sebagai pengganti empeng. Jika batita Anda tetap merengek-rengek meminta empeng, alihkan perhatiannya dengan barang kesayangan lainnya seperti mainan atau boneka favoritnya. Atau, Anda bisa meluangkan waktu untuk bermain dengan si mungil.
Ibu, alangkah bijaknya jika Anda menjelaskan juga kepada batita, bahwa dia sudah besar dan tidak sepantasnya lagi menggunakan empeng. Jelaskan ini dengan bahasa sederhana yang mudah untuk dicerna oleh pikirannya. Tak ada salahnya jika Anda mengajaknya ke tempat bermain, di mana ia bisa melihat rekan-rekan seumurnya tidak lagi menggunakan empeng. Ini tentu akan memberinya rasa malu bukan? Dan (mudah-mudahan) tidak mau lagi mengenakan empeng.

