Jika si Kecil Berkacamata
Ibu, Anda mungkin tengah gundah-gulana saat dokter anak langganan Anda menyarankan si kecil untuk memakai kacamata. Bisa jadi Anda merasa bersalah karena tidak menyediakan asupan yang sehat guna melindungi mata buah hati Anda. Ibu, alih-alih merasa risau, lebih baik Anda menolong si kecil untuk merasa nyaman dengan ‘mata’ tambahannya. Sebab, kacamata dapat membantunya beraktivitas dan mengetahui pelbagai informasi yang dibutuhkannya,
Sejatinya, kacamata diperlukan bagi seseorang yang mengalami gangguan pembiasan atau refraksi, yakni gangguan yang menyebabkan obyek yang tertangkap mata telihat tidak fokus atau buram. Ganguan ini bisa diperbaiki dengan bantuan kacamata atau lensa kontak.
Apa yang dialami si kecil, biasanya adalah gangguan pembiasan rabun jauh (mata minus), dan gangguan pembiasan rabun dekat (mata plus). Anak yang mengalami salah satu dari gangguan itu, misalnya mata minus, umumnya akan menunjukkan perilaku khas seperti melihat sebuah gambar dari jarak yang sangat dekat yakni kurang dari 20 cm. Saat menonton televisi, anak akan mengambil posisi yang sangat dekat dengan layar televisi. Kemudian, memicingkan mata samil memirinkan kepada untuk mendapatkan fokus yang jelas sata melihat obyek yang sangat jauh.
Sedangkan, anak yang mengalami gangguan mata plus, akan menjauhkan matanya saat melihat sebuag gambar. Ia cepat merasa lelah dan tidak nyaman saat tengah menggambar.
Terkadang, matanya mudah berair, merah, dan terasa gatal.
Jika buah hati Anda menunjukkan perilaku tersebut, maka
dokter akan memperlihatkan gambar dengan bentuk dan warna yang menarik
perhatian seperti gambar binatang, rumah, angka, atau huruf, yang kemudian digerak-gerakkan
ke berbagai arah. Dari sini, dokter akan memperhatikan apakah pandangan anak
mengikuti gerakan gambar itu atau tidak. Bila tidak, ini berarti ada
kemungkinan terjadi gangguan pada penglihatannya.
Setelah itu, gambar tadi akan diperkecil dan diperkecil terus sampai batas
maksimal anak bisa melihatnya dengan jelas. Dengan begitu, dokter akan tahu
sejauh mana gangguan pembiasan yang dialaminya.
Cara lain, dengan menggunakan preferential looking test,
yakni menggunakan benda berbentuk silinder bergaris hitam yang diletakkan dalam
posisi tegak dan dalam jarak tertentu. Lalu, secara bergantian benda ini
diperlihatkan ke anak. Setiap kali diperlihatkan, jarak antar dua garis hitam
diperkecil atau dipersempit. Bila penglihatannya tajam, anak tetap dapat
melihat adanya dua garis yang jaraknya semakin berdekatan itu. Bila terjadi gangguan
pembiasan, maka semua garis terlihat membaur menjadi satu.
Perlu Ibu ketahui, bahwa mata memiliki apa yang disebut sistem optik, yang
terdiri dari kornea mata dan lensa yang bertugas membiaskan cahaya ke retina. Baik
tidaknya fungsi dari sistem optik ini akan diukur dengan autorefractometer,
yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan alat computer, untuk melihat minus atau
plusnya mata si kecil. Sebaiknya, kedua jenis pemeriksaan itu dijalani si
kecil, karena fungsinya yang saling melengkapi.

