Awas, Bahaya Zat Psikotropika di Sekolah

Ibu, hati siapa yang tak miris melihat bocah-bocah manis terpapar di rumah sakit, akibat mengkonsumsi permen cokelat yang ternyata mengandung zat psikotropika. Ini adalah kisah nyata yang dialami sejumlah murid TK di kawasan Lebak Bulus, Jakarta, pada bulan Juni kemarin.
Awalnya, salah seorang murid bernama Rida Wahyu, mendapatkan bekal berupa permen cokelat dari ibunya. Sampai di sekolah, permen yang ternyata adalah obat yang bersalut cokelat itu, dibagikan Rida kepada kawan-kawannya. Rupanya obat itu mengandung zat piskotropika jenis benzodiaspin. Walhasil usai menyantap Rida dan kawan-kawan sontak merasa lemah dan tertidur, bahkan hingga menabrak tembok dan jendela kelas.
Ah, ternyata bahaya narkoba juga mulai mengintai si kecil yang bahkan belum genap berusia tujuh tahun. Data Badan Narkotika Nasional (BNN) juga menyatakan bahwa 15.800 pelajar di DKI Jakarta adalah pengguna narkoba, dan 800 di antaranya adalah pelajar SD. Ini berarti, kemungkinan 1 dari 20 pelajar SD pernah mencoba atau bahkan mengkonsumsi narkoba. Mengenaskan bukan?
Kini paham bahwa Anda tak mungkin terus-menerus mengawasi buah hati Anda. Ada masa di mana anak Anda harus brersekolah dan bersosialisasi dengan teman-temannya, dan ini berarti untuk sementara waktu Anda tidak bisa mendampinginya, tapi, bukan berarti Anda tidak bisa melakukan apa untuk mencegahnya dari bahaya narkotika. Ya, sejak si kecil mulai menjejakkan kaki di bangku sekolah dasar, Anda bisa menjelaskan mengenai bahaya narkoba, dengan bahasa yang tentu dipahami oleh dia.
Tak sekadar memberikan informasi, Anda juga harus menjalin hubungan yang akrab dengan anak, untuk mengetahui sejauh mana ‘dunia’ yang kini sedang ia jajaki. Ini berarti Anda harus mengenali lingkungan pergaulannya dan jika memungkinkan orang tua dari teman-temannya. Awasi juga tayangan televisi (TV) yang sering ia konsumsi. Berikan penjelasan saat tayangan TV menampilkan adegan penggunaan zat psikotropika, agar anak tidak tergoda untuk meniru adegan itu.
Bekali anak dengan makanan yang cukup, untuk mencegah anak meminta atau menerima pemberian dari orang asing. Jangan sungkan untuk menyuruh anak berteriak, apabila ada seorang asing yang memaksanya untuk mengkonsumsi makanan atau minuman.
Jalin hubungan yang akrab dengan pihak sekolah, yakni kepala sekolah, guru wali, guru penyuluh, dan petugas keamanan, agar Anda bisa mengetahui sejauh mana perkembangan anak di sekolah. Dengan hubungan yang akrab, Anda bisa memberi masukan agar pihak sekolah menyelenggarakan program penyuluhan bahaya narkoba bagi siswa-siswi, seperti program P4GN (pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba). Anda juga bisa mengajukan diri untuk menjadi fasilitator atau motivator program tersebut.

