Malas Bersekolah Karena Pekerjaan Rumah
Ryan mendadak mogok sekolah. Awalnya ia mengaku sedang tak enak badan, tapi setelah diperiksa bunda, ternyata kondisi tubuhnya baik-baik saja. Lantas, apa yang mengakibatkan siswa yang duduk di kelas tiga sekolah dasar itu enggan bersekolah? Rupanya Ryan sedang kesal terhadap gurunya, karena selama beberapa minggu ini, guru tersebut terus membebani Ryan dengan setumpuk pekerjaan rumah (PR), “Padahal Ryan ‘kan juga mau bermain bersama teman-teman, Bunda,” keluhnya.
Belum lagi kalau musim ulangan tiba. Praktis, selain sibuk mengerjakan PR, Ryan juga harus meluangkan waktu ekstra untuk mempersiapkan diri menghadapi ulangan. Akibatnya, Ryan bukan saja tidak punya waktu untuk bergaul bersama teman-temannya, ia bahkan tidak lagi bisa bercengkerama dengan anggota keluarganya. Kebanyakan mengerjakan PR juga membuat Ryan terlampau letih, sehingga tidak maksimal menyimak pelajaran di sekolah. Apalagi, guru Ryan juga seringkali memberi ancaman apabila ada murid yang lalai mengerjakan PR.
Ya, PR ditujukan agar anak dapat menguasai mengulangi materi pelajaran yang diterima dari sekolah, tetapi bukan untuk menyita waku anak bermain dan beristirahat. Sebetulnya, jika anak sudah menguasai materi yang diajarkan, anak tak perlu lagi mengerjakan PR. Ini yang menjadi intisari dari hasil penelitian Nancy Kalish dan Sarah Bennet asal Amerika Serikat, yang berjudul The Case Against Homework: How Homework Is Hurting Our Children and What We Can Do About It. Hasil penelitian itu menyatakan bahwa kebanyakan orang tua dan pendidik di negeri Paman Sam itu, tidak yakin bahwa dengan mengerjakan PR, prestasi akademik anak bisa lebih baik.
Masih menurut penelitian ahli, David Baker dan Gerald LeTendre, profesor pendidikan dan penulis buku National Differences, Global Similarities: Would Culture and the Future if Schooling, menyatakan bahwa negara-negara yang dikenal dengan kebijakan memberikan PR yang banyak buat siswanya seperti Yunani, Thailand, Iran justru mencatat prestasi akademik murid yang sangat buruk. Sebaliknya, negara-negara seperti Jepang, Denmark, dan Czech Republic, yang murid-muridnya menempati rangking tertinggi prestasi akademik level dunia, hanya memberikan sedikit PR atau tidak sama sekali untuk murid-muridnya. Jepang misalnya, di akhir tahun 1990-an, beberapa sekolah dasar di sana menerapkan kebijakan “no homework”, agar siswa bisa mempunyai waktu luang bersama keluarga dan dapat melakukan aktivitas menyenangkan lainnya.
Ibu, Anda berhak untuk memberi input kepada pihak sekolah, apabila PR yang dibebankan kepada anak sudah melewati batas. Artinya, waktu anak lebih tersita untuk mengerjakan PR, sehingga ia nyaris tidak memiliki waktu untuk beristirahat, bermain, dan berinteraksi bersama teman-teman dan keluarga. Ya, Anda bisa meminta guru untuk mengurangi beban PR yang diberikan, apalagi jika anak sudah menguasai materi tersebut.
Seringkali antar guru juga tidak pernah menginformasikan mengenai berapa banyak PR yang mereka berikan kepada murid. Akibatnya, anak tidak hanya mendapat tugas dari satu sumber, melainkan dari banyak sumber. Anda bisa meminta para guru untuk saling berkomunikasi mengenai PR apa saja yang akan diberikan kepada anak murid. Jangan sampai, anak mengerjakan PR untuk tujuan yang sama. Bagaimanapun juga, sekolah seharusnya menyenangkan anak, bukan sebaliknya!

