Perlukah Anak Mendapat Pelajaran Tambahan?
Hari-hari si kecil Tony kian sibuk. Betapa tidak, usai bersekolah di sebuah taman bermain kanak-kanak (TK), Tony harus bergegas mengikuti kursus membaca. Keesokan harinya, Tony kembali mengulangi ritual yang sama, segera menuju ke tempat kursus usai pelajaran di TK berakhir. Ya, Tony tak sekadar mengikuti satu kursus, melainkan pelbagai kursus seperti berhitung cepat, menggambar, dan lain-lain. Bayangkan betapa si Tony kecil harus pandai mengatur waktu antara bersekolah dan mengikuti pelbagai kursus, padahal usianya belum genap enam tahun.
Menjamurnya aneka kursus untuk anak TK---terutama kursus baca dan tulis---bak cendawan di musim hujan tak lepas dari tuntutan beberapa sekolah dasar (SD) yang mensyaratkan kemampuan baca tulis bagi calon siswanya. Padahal, karakteristik anak TK adalah bermain, yang sesuai dengan namanya: taman bermain kanak-kanak. Ibu, tidak salah memang menjejali anak dengan pelbagai kursus, untuk merangsang potensi kecerdasan akademik atau intelektual yang dimiliki anak. Namun, kebutuhan anak-anak di usia prasekolah adalah untuk bermain dan berinteraksi, bukan mengasah keterampilan intelegensia.
Kami paham, sebagai orang tua yang baik, Anda ingin membekali anak dengan persiapan yang matang sebelum ia memasuki usia sekolah, salah satunya dengan keterampilan membaca dan menulis. Namun, jangan sampai persiapan ini justru menghambat hak anak untuk bermain bersama kawan-kawannya, beristirahat, dan bersenang-senang. Jadi, jika Anda ingin mengikutsertakan anak dalam kegiatan tambahan di luar jam sekolah, pastikan bahwa ini menyenangkan hatinya. Sebaliknya, jika anak menunjukkan muka masam setiap menuju ke tempat kursus, lebih baik Anda hentikan kegiatan tersebut. Anda bisa memilih tempat kursus yang memiliki metode pengajaran kreatif, yang memberikan bahan pengajaran dengan cara yang demikian menyenangkan, sehingga memungkinkan anak untuk dapat bermain dan berinteraksi dengan teman-temannya.
Menurut pakar psikologi anak, Dra Adriani Purbo Psi, MBA, mewajibkan anak TK menguasai keterampilan membacan dan menulis, berarti memaksakan anak memiliki kemampuan yang seharusnya baru diajarkan di SD. Ini juga membuat aktivitas bermain anak menjadi berkurang atau bahkan terabaikan, sehingga dikhawatirkan akan menghambat perkembangan potensi-potensi kemampuan anak secara optimal.
Ibu, mengharuskan semua anak TK untuk bisa membaca dan menulis---termasuk juga memaksa anak Anda untuk menguasai kemampuan ini di usia prasekolah---bukan langkah yang bijaksana. Sebab, tiap anak memiliki kemampuan dan kesiapan yang berbeda-beda di dalam belajar menulis dan membaca. Dikatakan Adriani, ada banyak hal-hal penting yang dapat diajarkan pada anak TK, ketimbang hanya berfokus pada membaca dan menulis, yakni: kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan budi pekerti yang baik. Mengasah kemampuan intelektual anak memang baik, tapi jangan sampai berlebihan sehingga melupakan aspek kecerdasan lain yang juga perlu dirangsang. Ya, manusia yang berhasil bukan hanya dinilai dari segi intelektualnya, tapi juga bagaimana ia mengolah kemampuan emosionalnya. Setuju?

