Bertahan Hadapi Sindrom Baby Blues
Tommy tak mengerti, mengapa sang istri, Dina, bukannya merasa senang usai melahirkan jabang bayi, malahan terlihat bermuram durja. Rupanya Dina mengalami apa yang dinamakan post partum syndrome atau baby blues, yakni kondisi di mana seorang ibu seringkali menangis tanpa sebab, berkeringat dingin, sesak napas, sulit tidur, gelisah, tegang, bingung, merasa sendiri, sedih, tampak murung, sakit, marah, merasa bersalah dan tak berharga, punya pikiran negatif pada suami, dan kehilangan nafsu makan.
Kondisi ini dialami oleh hampir 50% perempuan yang baru melahirkan, dan dapat terjadi sejak hari pertama setelah persalinan, dan cenderung memburuk pada hari ketiga sampai kelima setelah persalinan. Baby blues sendiri cenderung menyerang dalam rentang waktu 14 hari terhitung setelah persalinan.
Sindrom ini disebabkan oleh naiknya kadar hormon kortisol (hormon pemicu stres) pada tubuh ibu, hingga mendekati kadar orang yang sedang mengalami depresi. Saat yang bersamaan, hormon laktogen dan prolaktin yang memicu produksi ASI sedang meningkat, sedangkan kadar progesteron sangat rendah. Akibat dari kombinasi ini, ibu tak hanya mengalami keletihan fisik, tapi juga depresi.
Secara psikologis, ibu juga merasa diabaikan karena perhatian suami dan keluarga sedang tertuju pada si bayi mungil. Padahal---usai persalinan---ibu tengah merasa lelah dan sakit dan membutuhkan perhatian. Ibu juga bisa mengalami baby blues apabila tampilan fisik dari si bayi yang tidak sesuai harapan.
Aktivitas mengasuh bayi yang meliputi menyusui, memandikan, mengganti popok, dan menimang bayi, dari pagi hingga malam hari, sangat menguras tenaga. Ini tentu rentan terhadap serangan baby blues. Memiliki peran baru yakni sebagai seorang ibu yang memiliki bayi mungil, tentu akan membuat ibu---untuk sementara---terpisah dari lingkungan sosialnya, karena harus mencurahkan segenap perhatian kepada si kecil. Walhasil, ini membuat ibu dengan mudah terkenan serangan baby blues.
Jika ibu yang sedang mengalami sindrom ini tidak segera mencari pertolongan, akan berdampak buruk bagi perkembangan kejiwaan dan kondisi fisik sang anak. Ya, stres dan sikap tidak tulus yang diperlihatkan ibu terus-menerus, akan membuat anak mudah menangis, rewel, pencemasa, sekaligus pemurung. Akibatnya, anak pun rentan terhadap sakit-penyakit.
Untuk mengatasi baby blues, Anda bisa meminta bantuan orang terdekat untuk menolong Anda mengasuh si kecil. Dan, Anda bisa lebih banyak meluangkan waktu untuk tidur dan beristirahat yang cukup, terutama di mingu-minggu dan bulan-bulan pertama pasca melahirkan, untuk mencegah depresi dan memulihkan tenaga.
Baby blues syndrome juga bisa dicegah dengan menghindari makanan manis dan minuman yang mengandung kafein, karena keduanya berpotensi memperburuk depresi, dan menggantinya dengan mengasup makanan yang bernutrisi, sehat dan segar.

