Memecahkan Masalah ASI Berlimpah
Tak dipungkiri, pelbagai kecemasan dan kelelahan mengurus bayi baru terkadang membuat gairah bercinta suami-isteri menjadi surut. Memang, gairah menurun kerap kali dialami oleh para ibu pasca melahirkan. Namun, ini wajar dialami setiap ibu yang baru bersalin. Pada umumnya, keengganan untuk berhubungan badan dengan pasangan, terjadi antara satu hingga tiga bulan setelah melahirkan.
Keengganan itu terjadi karena trauma fisik dan psikis. Menurut konsultan seks dan perkawinan, Dr. Ferryal Loetan, ASC & T, Sp.RM, Mkes-MMR, sehabis melahirkan, wanita mengalami perubahan yang sangat drastis di dalam tubuhnya. Mulai mengandung, melahirkan yang mungkin mengeluarkan bayi cukup besar lewat vagina, dapat memberikan trauma kepada wanita.
Trauma fisik bisa terjadi saat melahirkan. Seperti rasa sakit akibat pengguntingan bagian dalam vagina (episiotomi) yang dilakukan dokter untuk melancarkan jalan lahir dengan tujuan menghindari terjadinya perobekan yang berat. Luka ini membutuhkan waktu untuk penyembuhan. Sedangkan trauma psikis (kejiwaan) terjadi pada wanita usai melahirkan yang belum siap dan memahami segala tetek bengek mengurus anak. Dari mulai merawat anak, merawat payudara yang sudah siap mengeluarkan susu, cara pemberian susu yang benar, dan lainnya. “Itu menjadi trauma sendiri meski rasa kebahagiaan hadir pada saat memiliki momongan,” ujar Ferryal.
Selain itu, rasa takut dan rasa sakit yang amat sangat bisa pula menyebabkan trauma psikis pada wanita usai melahirkan. Akibatnya, wanita tersebut tidak mau hamil kembali karena rasa sakit luar biasa. Trauma melahirkan baik trauma fisik maupun trauma psikis bisa berlanjut. Trauma-trauma ini dapat menyebabkan gangguan pada kehidupan seksual yang umumnya terjadi pada wanita. Bila trauma tersebut dikelola dengan baik, kehidupan seks Anda bisa berjalan dengan baik seperti semula. Sebaliknya bila tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan tragedi yang ujung-ujungnya gairah seks Anda menjadi padam.
Seorang ibu juga akan merasa kekelahan yang luar biasa, pada saat baru melahirkan. Sebabnya, bayi membutuhkan banyak sekali perhatian dari kedua orang tuanya. Apalagi, bayi-bayi yang masih teramat muda ini memiliki jadwal mengkonsumsi ASI satu sampai dua jam sekali. Ini memaksa para ibu untuk bergadang semalaman demi terpenuhinya kebutuhan si buah hati akan ASI. Walhasil, tenaga ibu menjadi terkuras sedemikian rupa dan membuatnya enggan untuk berhubungan seksual.
Ketidakseimbangan hormon juga kerap dialami ibu sesudah bayi lahir. Ketidakseimbangan hormon ini dapat mengakibatkan perubahan emosi yang tidak seimbang pula. Para ibu muda ini akan sering merasa kesal, malas, ingin marah, namun juga senang berlebihan. Selain itu, ketidakseimbangan hormon biasanya membuat ibu tidak mudah tanggap secara seksual, sehingga ia kehilangan spontanitas untuk bercinta.
Ibu yang baru melahirkan juga kerap merasa cemas dengan keadaan tubuhnya. Ya, ia menganggap tubuhnya tidak lagi menarik. Ia takut tidak bisa memproduksi ASI yang cukup banyak untuk kebutuhan bayi. Ia juga sering merasa cemas akan kondisi kesehatan lainnya, dan penyebab lainnya. Kecemasan-kecemasan ini membuat kondisi emosi ibu tidak stabil. Pada akhirnya, ini menjadi penghalang timbulnya hasrat untuk bercinta.
Untuk itu, dibutuhkan kesabaran hati suami untuk memahami kondisi fisik dan psikis sang isteri, termasuk sabar menanti saat isteri siap kembali untuk bercinta. Selama masa-masa ini, suami dapat kembali memulihkan keinginanan isteri untuk bercinta dengan memberikan perlakukan mesra seperti memberikan panggilan sayang, mencari pengasuh untuk menolong isterinya, membantu kesibukan isteri dan meyakinkan isteri bahwa ia---di mata suami---adalah wanita paling cantik di dunia.

