Beware Of Bleeding
Paras Diana sontak pucat-pasi. Di usia kehamilannya yang baru memasuki minggu ke-6, ia menemukan bercak darah di pakaian dalamnya. Memang, tidak sedikit wanita hamil mengalami bleeding atau perdarahan, yang terjadi di awal masa kehamilan (trimester pertama), tengah semester (trimester kedua), bahkan di masa kehamilan tua. Meski demikian, jangan anggap remeh perdarahan yang terjadi di masa hamil. Ini adalah keadaan yang tidak normal, dan perlu segera diperiksa untuk mengetahui penyebabnya, guna memberikan solusi medis yang tepat. Sebab, jika tidak segera ditangani, calon ibu akan mengalami keguguran.
Perdarahan di usia kehamilan tiga bulan pertama, disebabkan oleh abortus (keguguran), dengan beberapa tahapan: abortus iminens, yakni perdarahan dari rahim pada tahap awal di mana embrio masih berbentuk utuh. Di fase ini, perdarahan tidak disertai dengan rasa mulas. Untuk mengetahui apakah embrio masih dapat berkembang atau tidak, Anda dapat melakukan pemeriksaan USG.
Abortus insipiens merujuk pada embrio yang masih utuh, tapi karena terjadi pembukaan dalam rahim, perdarahan muncul dan disertai rasa mulas. Pada tahap abortus inkompit, embrio terlepas dari rahim, sehingga timbul pendarahan yang sangat banyak bahkan bisa menimbulkan shock. Sedangkan pada tahap abortus komplitus, embrio sudah keluar sudah keluar dari rahim dengan sendirinya. Perdarahan berkurang menjadi lebih sedikit, dan mulut rahim sudah menutup kembali, saatnya Anda menjalani kuratase untuk membersihkan sisa-sisa perdarahan dalam rahim.
Perdarahan juga bisa mengindikasikan terjadinya blighted ovum, yakni kehamilan yang tidak berkembang. Di mana di dalam rahim hanya terdapat kantong kehamilan tanpa kehadiran embrio. Jika ini terjadi pada Anda, rahim harus segera dikuret. Sedangkan hamil anggur (mola hidatidosa) adalah kehamilan yang tidak normal, di mana bagian janin atau plasenta berubah sifat menjadi tumor, yang kemudian gugur dan mengakibatkan perdarahan. Ada pula kehamilan di luar kandungan, yang pembuahannya terletak diluar rongga rahim, misal di saluran telur (tuba), ovarium atau rongga perut. Ini praktis menimbulkan perdarahan dalam perut dan mengakibatkan shock.
Seorang ibu yang mengalami perdarahan, biasanya akan disarankan dokter untuk beristirahat total di tempat tidur, tidak melakukan hubungan seksual, mengkonsumsi vitamin tanaman tambahan, dan memberikan obat supaya kehamilan dapat dilanjutkan.
Selain faktor-faktor di atas, perdarahan juga disebabkan oleh luka di vagina atau jalan lahir. Luka ini muncul akibat cara ibu yang kurang tepat, saat membersihkan vagina dengan obat keputihan, sehingga alat vital tersebut mengalami luka atau lecet dan mengeluarkan darah. Jika Anda mengalami ini, jangan sembarangan menggunakan obat untuk mengobatinya. Meski hanya lecet, luka Anda tetap memerlukan penanganan ahli, karena terletak di area sensitif.

