Sulitnya Mewujudkan Perdamaian Israel-Palestina

Peribahasa “bagai menegakan benang basah” tepat menggambarkan sulitnya menciptakan perdamaian Israel-Palestina. Betapa tidak, Sabtu kemarin (27/12), dua hari sesudah perayaan kelahiran Raja Damai, Yesus Kristus, pasukan udara Israel memborbardir pasukan Hamas dan warga sipil Palestina di Jalur Gaza. Padahal, sehari sebelumnya, pemerintah Israel membuka pintu perbatasan Israel-Palestina untuk truk-tuk pengangkut bantuan kemanusiaan, sedangkan Hamas mulai mengurangi volume serangan roketnya, meski keduanya masih dalam kondisi bersitegang.
Serangan itu sendiri dipicu oleh peristiwa tewasnya seorang pria Israel di kota Netivot, bagian selatan Israel (27/12), akibat sebuah roket yang ditembakkan pejuang Palestina di Jalur Gaza. Walhasil, Israel meradang dan melancarkan serangan yang terus berlangsung hingga Minggu (28/12). Akibatnya, lebih dari 200 orang tewas dan 700 lainnya terluka.
Akibat tragedi tersebut, pihak Hamas bersumpah akan membalas dendam pada Israel dengan meluluhlantakkan infrastruktur di Israel. Sebaliknya, pimpinan Israel sesumbar akan tetap melancarkan serangan baik di udara maupun di jalur darat. Ini ditegaskan oleh Perdana Menteri Israel, Ehud Olmert, “Ada saatnya kami diam, dan ada waktunya kami membalas. Sekarang waktunya bertempur!” tandasnya.
Dari pihak Hamas, Ismaul Haniyeh, Kepala Pemerintah Hamas di Gaza mengatakan bahwa insiden ini tidak akan bisa memaksa bangsa Palestina meninggalkan kediaman mereka, “Kami tidak akan meninggalkan tanah kami, kami tidak akan mengibarkan bendera putih, kami tidak akan menyerah!” serunya.
Usaha menghentikan pertempuran berdarah di kedua negara telah diupayakan oleh Dewan Keamanan PBB, yang mendesak Israel menghentikan serangan ke Jalur Gaza. Namun usaha tersebut tidak berjalan mulus, sebabnya pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menggunakan haknya untuk mem-veto resolusi PBB yang mengharuskan Israel menghentikan serangan ke Jalur Gaza.
Menurut perwakilan AS di PBB, Zalmay Khalilzad, AS mengambil kebijakan untuk ‘melindungi’ Israel, karena menurut negeri ini Tel Aviv memiliki hak untuk melindungi diri, “Saya menyesalkan nyawa-nyawa orang yang tidak berdosa melayang. Namun ini karena tindakan Hamas yang melontarkan roket-roketnya,” jelas Khalilizad.
ARTIKEL LAINNYA
- Ribuan Aparat berjaga di malam Tahun Baru
- Skandal susu bermelamin bisa berujung vonis mati
- Jalur Puncak ditutup menjelang Tahun Baru
- Gus Dur Kecam Kekerasan di Jalur Gaza
- Ketidakabadian Michael jackson
- Jepang berikan bantuan MRT
- Krisis Global dan Secercah Harapan di Tahun 2009
- Robinho I'll be home for Christmas

