Dampingi Sohib Hadapi Musibah
Siapa pun pasti tidak ingin mengalami musibah, entah itu kecelakaan, kematian orang terdekat, kehilangan benda berharga, apa pun juga yang berkaitan dengan penderitaan batin dan fisik. Tapi, musibah atau penderitaan, adalah sesuatu yang pasti bakal dialami oleh semua makhluk hidup di dunia ini, sebagai konsekuensi logis dari keadaan dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa.
Kebanyakan, jika kita sedang mengalami penderitaan, tentu mengharapkan dukungan dari keluarga dan teman terdekat. Sebagai makhluk sosial, salah satu sifat alamiah kita adalah berhubungan dengan orang lain, termasuk saat menghadapi musibah. Jika tidak, maka kita bisa semakin tenggelam di dalam perasaan sedih berkepanjangan, dan bukan tak mungkin mengalami depresi.
Bagaimana jika seandainya sohib kita sendiri yang tertimpa musibah? Jika ini terjadi pada kita, penting untuk melihat musibah itu dari kaca mata sohib, untuk memberi pendampingan yang tepat. Seseorang yang kehilangan rumahnya karena bencana alam misalnya, tentu kadar kesedihannya akan berbeda dari mereka yang kehilangan orang tua karena kematian. Atau, seseorang yang mengalami cacat permanen karena kecelakaan, tentu jauh lebih merasa menderita dibanding mereka yang mengalami sakit sehingga terpaksa berbaring di rumah sakit.
Seseorang yang sedang mengalami musibah, biasanya ada pada periode di mana ia akan berpikir negatif tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tapi juga lingkungannya bahkan kepada Tuhan. Dan pikiran yang negatif ini, tanpa ia sadari, akan ia tularkan kepada siapa saja yang bersedia untuk mendengar keluh kesahnya. Kalau kebetulan sohib kamu mengalami fase ini, penting untuk menjaga pikiranmu tetap positif. Bisa jadi, alih-alih menyemangati dia, kamu malahan terkena depresi karena terlalu banyak menerima informasi yang negatif.
Perlu untuk meyakinkan sohib, bahwa mengalami musibah itu bukan akhir dari segalanya, juga bukan semata-mata karena hukuman Tuhan atau karena kesalahan berat yang ia lakukan. Ini untuk mengurangi unsur negatif dalam benak sohib. Sikap yang terbaik pada saat mengalami musibah adalah menginstropeksi diri, dan menerima musibah itu dengan iman, yakni sesuatu yang Tuhan berikan untuk kebaikan. Lagi pula, penderitaan akan selalu menjadi bagian dalam kehidupan, selama orang yang bersangkutan itu masih bernapas.
Iman Kristen, memandang penderitaan dalam arti yang positif, yakni sebagai sesuatu yang berada di bawah kendali Tuhan. Tekankan pada sohib, bahwa penderitaan berati saat untuk menguji kemurnian iman, membina watak, dan kesempatan untuk mendatangkan sukacita Tuhan yang melampaui akal.
Selain itu, ungkapan ”action speaks louder then words (perbuatan berbicara lebih keras dibanding perkataan)” juga perlu diterapkan pada saat mendampingi sohib menghadapi musibah. Ya! Sediakan waktu tidak hanya untuk berbicara kepada dia, tetapi juga untuk mendengarkan kesedihannya, kekecewaannya, dan kegalauan hatinya. Sediakan waktu untuk berdoa bagi dia, untuk memenuhi kebutuhannya.

