Sahabat Dekat vs TTM
Teman Tapi Mesra alias TTM, adalah istilah yang digunakan untuk seorang teman baik atau sahabat yang tidak bisa dijadikan pacar karena pelbagai alasan. Umumnya level pacaran ditempuh sesudah si cewek dan si cowok sebelumnya berteman bahkan bersahabat karib. Dan, frase TTM akan mengemuka, apabila hubungan persahabatan yang akan diresmikan menjadi berpacaran terganjal karena berbagai sebab.
Oleh sebab itu, istilah sahabat dekat dan TTM kerap kali sumir, alias tidak ada pembatasan yang jelas. Padahal, ada perbedaan signifikan antara sekadar bersahabat dengan TTM, yakni: kualitas persahabatan itu lebih intens dari pertemanan, bahkan menyerupai dengan hubungan persaudaraan.
Memang, TTM juga identik dengan persahabatan, yakni karena adanya unsur keakraban antara pria dan wanita yang kadarnya melebihi hubungan pertemanan biasa. Tapi, hubungan TTM diimbuhi oleh chemistry atau rasa ketertarikan seksual antara si cewek dan si cowok. Beda dengan persahabatan, di mana tidak ada sama sekali unsur ketertarikan seksual, atau kalau pun ada hanya salah satu pihak yang mengalami rasa itu.
Selain itu, TTM juga identik dengan perselingkuhan. Mengapa? Ini karena hubungan persahabatan---akibat unsur chemistry---yang semula akan naik level ke jenjang pacaran, batal karena salah satu pihak sudah memiliki pasangan, oleh sebab itu diputuskan untuk mengubah arah hubungan menjadi TTM. Beda dengan hubungan persahabatan, di mana masing-masing pihak tidak perlu dikhawatirkan dengan isu perselingkuhan, karena memang tidak ada rasa eros di dalam hubungan itu. Dan, kalau pun salah satu pihak ada yang mengalami getar-getar asmara, alih-alih menggunakan kesempatan itu untuk berselingkuh, sebagai sahabat sejati ia akan memberi peringatan.
Menyoal timbal-balik, sudah jamak bahwa seseorang yang terlibat hubungan TTM akan mengharapkan imbalan dari kasih sayang dan perhatian yang ia berikan kepada ceweknya atau cowoknya. Ya, ini seseorang yang berada dalam hubungan TTM, umumnya memiliki pola pikir bahwa ia memberikan sesuatu untuk mendapatkan imbalan. Sedangkan, seorang sahabat sejati tidak pernah memusingkan apakah temannya akan membalas kebaikannya atau tidak, karena ia melakukannya dengan tulus dan tidak mengharapkan sesuatu apa pun!
Sekarang, bagaimana caranya mengantisipasi agar hubungan persahabatan tidak berkembang menjadi TTM, khususnya jika si lawan jenis memang sudah tidak available lagi? Pertama, kembali kepada teguh komitmen untuk membatasi hubungan hanya dalam koridor persahabatan. Kalau perlu, bergaul juga dengan pasangan sahabat kita, supaya hubungan ini bisa diawasi oleh orang ‘ketiga’.
Seandainya getar-getar asmara itu menunjukkan gejala yang semakin menggila, mau tidak mau hubungan persahabatan itu lebih baik disudahi saja. Kalau memungkinkan, putuskan semua akses komunikasi dengan dia, termasuk SMS, email, friendster, dan lain-lain. Kalau pun masih berhubungan, maka sebaiknya pertemuan di adakan di ruang umum, bersama-sama dengan teman-teman lainnya.
Kalau pun masih ingin ber-TTM-an, pastikan si teman memang available alias belum ada yang punya! Tentunya aturan main antar sahabat dan TTM memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Mau tahu? Tunggu di edisi berikutnya ya!

