Menghadapi Ayah yg Otoriter
Syahdan, diadakan pementasan drama di sebuah sekolah, yang diperankan oleh siswa-siswi setempat. Di akhir pementasan, guru drama akan memberikan hadiah untuk pemeran terbaik. Lakon drama pun bergulir, semua anak menunjukkan penampilan yang terbaiknya. Ada berperan sebagai petani, nelayan, dan seorang anak memerankan tokoh pria dewasa lengkap dengan raut muka yang ketus---sesuai dengan peran yang ia mainkan yakni pak tua yang pemarah sekaligus otoriter. Sementara siswa lainnya---yang berperan sebagai anak dari pak tua itu---tampak sedih dan murung.
Akhirnya tibalah guru drama mengumumkan pemenang dari pentas drama itu, yang ternyata dimenangkan oleh pemeran pak tua tadi. Para penonton pun bertepuk tangan, termasuk orangtua si anak tadi. Sampai di panggung, sang guru bertanya kepada anak itu, “Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Apa rahasianya sehingga kamu bisa tampil sebaik ini?”
Anak itu menjawab, “Saya harus berterimakasih kepada Ayah, karena dari dia saya belajar menjadi seorang otoriter, seorang pemarah, yang selalu berteriak-teriak. Dari Ayah saya meniru semua perilaku ini.”
Sebetulnya apa yang dimaksud dengan perilaku otoriter? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), otoriter yakni tindakan yang berkuasa sendiri, atau sewenang-wenang. Umumnya, untuk menegaskan kekuasaannya atau kesewenangannya, seseorang yang otoriter akan menunjukkan dengan cara yang kasar seperti marah-marah dan berbicara dengan nada keras.
Dalam keluarga, ayah kerap dituding sebagai seseorang yang otoriter. Mengapa? Ini karena peran ayah sebagai kepala keluarga, yang memang memiliki hak perogratif atau istimewa. Dan, jika peran itu disalagunakan, maka muncul perilaku yang disebut sebagai perilaku yang otoriter. Tapi perlu diingat, seorang ayah bersikap otoriter salah satu sebabnya karena ingin anak-anaknya memilliki hidup yang baik. Dan ini ia lakukan, karena rasa sayangnya kepada kelurganya.
Jadi, bagaimana menghadapi ayah yang otoriter? Take it easy, alias jangan terlalu dimasukin ke dalam hati, apalagi kalau itu untuk kebaikan kita. Ini karena dalam hal tertentu, ayah jauh lebih matang dan berpengalaman. Memang, kesannya seperti memaksakan kehendak, padahal bisa jadi kehendak itu yang terbaik buat kita.
Masih ingat dengan kasus artis Rico Ceper? Beberapa waktu lalu Rico pernah dilaporkan ke polisi karena berpacaran dengan Achy, seorang anak berusia 16 tahun. Dan si pelapor tak lain adalah ayah kandung dari gadis tersebut. Kesannya memang otoriter, tapi sebetulnya perilaku tadi menunjukkan kepedulian sang ayah terhadap anak gadisnya yang masih berusia belia itu!
Tapi, bagaimana kalau sikap ayah yang otoriter tidak bisa dicerna secara akal sehat? Misalnya, ayah tetap memaksakan kehendak untuk sesuatu yang kurang prinsip. Misal, ayah memaksa kamu untuk melanjutkan kuliah di bidang ilmu pasti, padahal kamu lebih berbakat di bidang seni. Dalam hal ini, kamu bisa melanjutkan alasan yang logis, yakni dengan menunjukkan prestasi kamu di bidang itu. Kemudian, tunjukkan bahwa kamu memang serius dengan niat kamu untuk menekuni bidang tersebut. Bagaimana pun juga, ayah yang otoriter tetap manusia kok!

