Siasati krisis Saat Orangtua Pensiun
Keceriaan tampak jelas di wajah segerombolan anak yang mengenakan seragam putih abu-abu itu. Betapa tidak. Mereka baru saja dinyatakan lulus dari Ujian Akhir Nasional (UAN), dan ini berarti berhak melanjutkan ke perguran tinggi sekaligus menyandang predikat mahasiswa. Tidak demikian dengan Bayu. Meski dinyatakan lulus, Bayu tidak bisa langsung berkhayal masuk ke perguruan tinggi dan memilih jurusan yang diminatinya. Penyebabnya, bersamaan dengan kelulusan Bayu, ayahnya mulai memasuki masa pensiun.
Bayu pun dihadapkan dengan dua pilihan, segera bekerja untuk menggantikan ayahnya sebagai tulang punggung keluarga, atau tetap kuliah meski belum mendapatkan kepastian dana.
Untungnya, jauh sebelum kelulusan, Bayu sudah memprediksi kapan persisnya ayahnya akan memasuki masa pensiun. Untuk itu, Bayu pun belajar bersungguh-sungguh dengan harapan mendapat nilai yang layak untuk mendapatkan beasiswa.
Rupanya, strategi Bayu cukup jitu. Ia mendapat beasiswa dan bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi, masalah tidak berhenti di situ. Bayu tentu juga harus memikirkan kelangsungan hidup keluarganya. Akhirnya, sambil bekerja, Bayu memutuskan untuk mencari penghasilan dengan menjadi guru privat bagi anak-anak sekolah.
Dika---sama seperti Bayu, anak dari seorang ayah yang juga sudah pensiun---baru saja lulus SMA dan ingin melanjutkan sekolah. Sayangnya, Dika tidak memiliki otak secemerlang Bayu sehingga hampir tidak mungkin mendapatkan program beasiswa. Untunglah, Dika memiliki kerajinan dan ketekunan melebihi teman-teman sebayanya. Maka, Dika memutuskan untuk bekerja sesuai dengan kemampuannya. Selama bekerja, alih-alih menikmati hasil kerjanya, Dika menggunakannya untuk kebutuhan keluarga dan menyimpan sisanya untuk biaya pendidikannya nanti. Walhasil, Dika nyaris tidak menggunakan uangnya untuk kepentinganya sendiri.
Pengorbanan Dika tidak sia-sia. Selang dua tahun kemudian, Dika bisa melanjutkan pendidikan dengan uang tabungannya. Sementara, perusahaan tempatnya bekerja mengijinkan Dika untuk bekerja sambil kuliah, karena sudah kepincut dengan konduite kerjanya yang memang baik.
Ya, kerja keras merupakan kunci untuk bisa menghadapi krisis ekonomi saat orangtua memasuki masa pensiun. Daripada meluangkan waktu untuk bersenang-senang, Bayu dan Dika memilih untuk bekerja keras agar dapat mewujudkan impian mereka. Padahal, Bayu dan Dika bisa memilih untuk bekerja dan menggunakan hasilnya demi kesenangan mereka sendiri. Atau tetap kuliah, dan membiarkan orangtua yang berjibaku memenuhi kebutuhan mereka.
Selain kerja keras, kreativitas juga diperlukan untuk mensiasati krisis. Seperti yang dilakukan Rika bersama teman-temannya. Rika berada di tingkat III, saat ayahnya pensiun dari tempat kerjanya. Untuk mengantisipasinya, Rika bersama teman-teman, mengerjakan proyek kerajinan tangan yang memberi hasil lumayan.
Baik Bayu, Dika, dan Rika, juga memiliki kesamaan dalam mensiasati krisis, yakni disiplin dalam mengelola pengeluaran. Ini memang tidak mudah. Apalagi ketiganya adalah anak muda yang notabene senang mengikuti pelbagai tren mulai dari mode, film, musik, dan lain-lain, yang tentu membutuhkan pengorbanan biaya untuk itu semua.
Meski berat, terbukti bahwa Bayu, Dika, dan Rika bisa survive menghadapi masa di mana orangtua mereka mulai pensiun. Asal, mau berusaha dan berdoa, tul nggak?

